Selamat Datang!

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI AGAMA DAN BUDAYA


PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER  
BERBASIS NILAI AGAMA DAN BUDAYA

Oleh: AENUDIN, M.Ag.


A.    PENDAHULUAN
Salah satu tema yang muncul begitu kuat ke permukaan dewasa ini dalam diskursus isu-isu pendidikan kontemporer adalah pendidikan karakter.[1] Pendidikan karakter telah menjadi polemik di berbagai negara. Pandangan pro dan kontra mewarnai diskursus pendidikan karakter sejak lama. Sejatinya, pendidikan karakter merupakan bagian esensial yang menjadi tugas sekolah, tetapi selama ini kurang menjadi perhatian. Minimnya perhatian terhadap pendidikan karakter dalam ranah persekolahan, sebagaimana dikemukakan Thomas Lickona, telah menyebabkan berkembangnya berbagai penyakit sosial di tengah masyarakat. Seyogianya, pencapaian akademis dan pembentukan karakter yang baik merupakan dua misi integral yang harus mendapat perhatian sekolah. Namun, tuntutan ekonomi dan politik pendidikan menyebabkan penekanan pada pencapaian akademis mengalahkan idealitas peran sekolah dalam pembentukan karakter (Zubaedi, 2011:14).
Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa minimnya perhatian terhadap pendidikan karakter dalam ranah persekolahan yang telah menyebabkan berkembangnya berbagai penyakit sosial di tengah masyarakat ditandai dengan buruknya karakter sebagian bangsa Indonesia yang malas, tidak disiplin, suka melanggar peraturan, ketidakjujuran, KKN, dan lain-lain. Hal inilah yang menjadikan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Indonesia masih rendah. Krisis karakter bangsa juga dialami oleh generasi muda Indonesia. Rendahnya moralitas generasi muda Indonesia yang notabene terdiri dari peserta didik ditandai dengan sikap kurang menghormati guru, melanggar tata tertib sekolah, tawuran, sikap tidak jujur dalam ujian dan aksi anarkis lainnya. Bahkan, akhir-akhir ini pada bulan April 2014 lalu terjadi tindakan kekerasan, penganiayaan mahasiswa baru oleh para seniornya hingga meninggal dunia di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta.
Menurut Malik Fadjar (2005:138) bahwa tindakan kekerasan ini terus terjadi setiap waktu dan tempat, termasuk di Indonesia. Pertentangan-pertentangan kecil yang bersifat individual kadang tiba-tiba berubah menjadi berskala tinggi, seperti kejadian tawuran (perkelahian massal) antarpelajar di kota-kota besar, perkelahian antarkampung, antarkelompok (ras, suku, dan agama) yang memakan korban jiwa, sampai ke puncak konfigurasinya yang paling tinggi yaitu perang. Bahkan akhir-akhir ini “makhluk” kekerasan menimpa dunia pendidikan Indonesia, antara lain penganiayaan mahasiswa baru oleh para seniornya hingga meninggal dunia di Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Ada pula kejadian bunuh diri pelajar karena kesulitan membayar kegiatan ekstrakurikuler sekolah.
Keadaan demikian menimbulkan anggapan bahwa pelaksanaan pendidikan di sekolah masih dianggap kurang berhasil, terutama dalam hal yang berkaitan dengan menatlitas, moral, karakter, dan akhlak. Penyebab awal terjadinya kenakalan remaja adalah kemerosotan akhlak, dan faktor penyebab utamanya adalah kesalahan dalam desain pendidikan. Hal ini dikatakan Ahmad Tafsir (2006:296-299) bahwa penyebab krisis nasional adalah desain pendidikan yang salah, keimanan yang lemah, kemerosotan akhlak yang parah, korupsi yang sudah menjadi penyakit, krisis moneter, krisis ekonomi dan krisis politik. Sementara menurut Azyumardi Azra sebagaimana diungkapkan Muhaimin (2006:92) bahwa tinggi rendahnya tingkat kriminal tidak hanya terkait dengan pendidikan, tetapi lebih disebabkan karena: lemahnya penegakkan hukum atau soft state dalam penegakkan hukum, mewabahnya gaya hidup hedonistic, dan kurang adanya political will serta keteladanan dari pejabat-pejabat publik. Menurut Malik Fadjar  (2005:62) bahwa krisis bangsa Indonesia yang merambah hampir ke seluruh sektor kehidupan pada akhirnya dan pada dasarnya menggambarkan kemerosotan spiritualitas dan moralitas luhur bangsa. Menurut Tilaar (2009:299) bahwa krisis yang menimpa masyarakat Indonesia telah membawa pada keterpurukan mutu kehidupan bangsa. Keterpurukan tersebut diindikasikan oleh merosotnya mutu sumber daya manusia Indonesia yang semakin merosot. Kemerosotan tersebut menunjukkan pula rendahnya mutu pendidikan Indonesia, termasuk mutu pendidikan tingginya. Menurut E. Mulyasa (2004:4) bahwa rendahnya kualitas SDM merupakan masalah mendasar yang dapat menghambat pembangunan dan perkembangan ekonomi nasional. Data statistik menunjukkan bahwa tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh mereka yang berpendidikan SD.
Abudin Nata (2003:189) mengemukakan bahwa gejala kemerosotan moral dewasa ini sudah benar-benar mengkhawatirkan, karena bukan lagi hanya menimpa kalangan orang dewasa dalam berbagai jabatan, kedudukan dan profesinya, melainkan juga telah menimpa kepada para pelajar tunas-tunas muda yang diharapkan dapat melanjutkan perjuangan membela kebenaran, keadilan dan perdamaian masa depan. Tetapi malah perilaku mereka sukar dikendalikan, nakal, keras kepala, berbuat keonaran, maksiat, tawuran, mabuk-mabukan, pesta obat-obat terlarang, bergaya hidup hippies, bahkan melakukan pembajakan, pemerkosaan dan tingkah laku penyimpangan lainnya. Menurut Azyumardi Azra (2006:178) bahwa munculnya kembali gagasan tentang pendidikan budi pekerti harus diakui berkaitan erat dengan semakin berkembangnya pandangan dalam  masyarakat luas bahwa pendidikan nasional dalam berbagai jenjangnya, khususnya jenjang menengah dan tinggi “telah gagal” dalam membentuk peserta didik yang memiliki akhlak, moral, dan budi pekerti yang baik. Lebih jauh lagi, banyak peserta didik sering dinilai tidak hanya kurang memiliki kesantunan, baik di sekolah, di rumah dan di lingkungan masyarakat,  tetapi juga sering terlibat dalam tindakan kekerasan, seperti tawuran massal.
Memperhatikan uraian di atas kita perlu mengembalikan peran dan fungsi  pendidikan, yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter secara simultan. Untuk itu diperlukan perubahan besar dan mendasar, yaitu perubahan paradigma untuk mengubah mind set dunia pendidikan dari paradigma humanisme sekuler ke paradigma humanisme teosentris dalam pengembangan pendidikan karakter. Hal ini berimplikasi pada perubahan paradigma ilmu bebas nilai ke paradigma integrasi ilmu pengetahuan dan nilai agama melalui dunia pendidikan khususnya persekolahan. Hal ini sebagaimana pendapat filosof Thomas S. Khun (2005:10) bahwa apabila tantangan-tantangan baru dihadapi dengan menggunakan paradigma lama, tentu segala usaha yang dijalankan akan menemui kegagalan.
Pendidikan karakter berbasis agama dan budaya, secara normatif sarat dengan nilai-nilai transendental-Ilahiyah dan insaniyah. Semua itu diwadahi dalam bingkai besar yang disebut humanisme-teosentris. Paradigma humanisme-teosentris inilah yang harus dijadikan sebagai paradigma pendidikan karakter.
Dari uraian mengenai fakta-fakta di atas, penulis dapat merumuskan permasalahan yang akan menjadi fokus dalam kajian ini. Apakah penyebab utama memudarnya pendidikan karakter di sekolah?; Bagaimanakah corak paradigma yang dijadikan landasan pendidikan karakter?; Bagaimanakah peran dan fungsi pendidikan dalam pembudayaan nilai-nilai karakter?; Bagaimanakah peran agama dan budaya dalam pengembangan pendidikan karakter?; Bagaimanakah langkah-langkah strategis dalam pengembangan pendidikan karakter?.
Sejalan dengan permasalahan tersebut di atas, makalah ini akan menganalisis penyebab utama memudarnya pendidikan karakter di sekolah; menganalisis mengenai corak paradigma yang dijadikan landasan pendidikan karakter; menganalisis mengenai peran dan fungsi pendidikan dalam pembudayaan nilai-nilai karakter; menganalisis peran agama dan budaya dalam pengembangan pendidikan karakter; dan terakhir menganalisis mengenai langkah-langkah strategis dalam pengembangan pendidikan karakter. Pembahasan masalah tersebut dengan menggunakan pendekatan sosiologis-pedagogis dan pendidikan agama dengan merujuk pada sumber-sumber dan teori-teori ilmiah yang otoritatif dan integratif.

B.     ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1.       Karakter, Pendidikan Karakter, Nilai Agama dan Budaya
Kata “karakter” berasal dari bahasa Yunani yang berarti to mark (menandai) dan memfokuskan, bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku (Musfiroh, 2008:29). Oleh sebab itu, seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berperilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan kepribadian seseorang. Seseorang bisa disebut orang yang berkarakter, apabila perilakunya sesuai dengan kaidah moral.
Menurut Joel Kuperman sebagaimana diungkapkan Almusanna (2010:247) bahwa karakter merupakan ciri atau tanda yang melekat pada suatu benda atau seseorang. Karakter menjadi tanda identifikasi. Dengan demikian, secara sederhana karakter merepresentasikan identitas seseorang yang menunjukkan ketundukannya pada aturan atau standar moral dan termanifestasikan dalam tindakan. Fasli Jalal (2010) merumuskan definisi karakter sebagai nilai-nilai yang khas baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, nyata berkehidupan baik, dan berdampak baik terhadap lingkungan) yang terpatri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada dua kata yang berhubungan dengan karakter. Pertama, kata “watak” yang diartikan sebagai sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, budi pekerti, dan tabiat. Kedua, kata “karakter” yang diartikan sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Sebagian menyebutkan karakter sebagai penilaian subjektif terhadap kualitas moral dan mental, sementara yang lainnya menyebutkan karakter sebagai penilaian subjektif terhadap kualitas mental saja, sehingga upaya mengubah atau memebentuk karakter hanya berkaitan dengan stimulasi terhadap intelektual seseorang.
Griek mengemukakan bahwa karakter dapat didefinisikan sebagai paduan daripada segala tabiat manusia yang bersifat tetap, sehingga menjadi tanda yang khusus untuk membedakan orang yang satu dengan yang lain. Leonardo A. Sjamsuri dalam bukunya Kharisma Versus Karakter yang dikutip Damanik mengemukakan bahwa karakter merupakan siapa anda sesungguhnya. Batasan ini menunjukkan bahwa karakter sebagai identitas yang dimiliki seseorang yang bersifat menetap sehingga seseorang atau sesuatu itu berbeda dari yang lain (Anita Yus, 2008:91).   
Menurut Ekowarni (2010), pada tatanan mikro, karakter diartikan: (a) kualitas dan kuantitas reaksi terhadap diri sendiri, orang lain, maupun situasi tertentu;  (b) watak, akhlak, ciri psikologis. Ciri-ciri psikologis yang dimiliki individu pada lingkup pribadi, secara evolutif akan berkembang menjadi ciri kelompok dan lebih luas lagi menjadi ciri sosial. Ciri psikologis individu akan memberi warna dan corak identitas kelompok dan pada tatanan makro akan menjadi ciri psikologis atau karakter suatu bangsa. Pembentukan karakter suatu bangsa berproses secara dinamis sebagai suatu fenomena sosio-ekologis (Anik Ghufron, 2010:14).
Berdasarkan pada beberapa pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa karakter merupakan jati diri, kepribadian, dan watak yang melekat pada diri seseorang yang membedakan dirinya dari orang lain.
Sebagai aspek kepribadian, karakter merupakan cerminan dari kepribadian secara utuh dari seseorang: mentalitas, sikap, dan perilaku. Karakter selalu berkaitan dengan dimensi fisik dan psikis individu. Karakter bersifat kontekstual dan kultural. Karakter bangsa merupakan jati diri bangsa yang merupakan kumulasi dari karakter-karakter warga masyarakat suatu bangsa. Hal ini sesuai dengan pendapat Endang Ekowarni (2010) sebagai dikutip Zubaedi (2010:10) bahwa karakter merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan atat nilai interaksi antarmanusia. Secara universal berbagai karakter dirumuskan sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar: kedamaian (peace), menghargai (respect), kerjasama (cooperation), kebebasan (freedom), kebahagiaan (happines), kejujuran (honesty), kerendahan hati (humility), kasih sayang (love), tanggung jawab (responsibility), kesederhanaan (simplicity), toleransi (tolerance), dan persatuan (unity).   
Karakter (character) mengacu pada serangkaian sikap  (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan hal yang terbaik, kapasitas intelektual seperti kritis dan alasan moral, perilaku seperti jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidakadilan, kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara efektif dalam berbagai keadaan, dan komitmen untuk berkontribusi dengan komunitas dan masyarakatnya. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, sosial, emosional, dan etika). Individu yang berkarakter baik adalah seseorang yang berusaha melakukan hal yang terbaik (Zubaedi, 2010:10).
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif, dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf, berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif, berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, dan tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mempu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut (Zubaedi,  2010:10-11).
Individu yang berkarakter baik atau unggul merupakan seseorang yang berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan, dirinya, sesama, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional pada umumnya dengan mengoptimalkan potensi dirinya dan disertai dengan kesadaran, emosi, dan motivasinya.
Menurut Muchlas Samani dan Hariyanto (2011:43) bahwa karakter dipengaruhi oleh hereditas. Perilaku seorang anak sering kali tidak jauh dari perilaku ayah atau ibunya. Selain itu lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam ikut membentuk karakter. Di sekitar lingkungan sosial yang keras seperti di Harlem New York, para remaja cenderung berperilkau antisosial, keras, tega, suka bermusuhan, dan sebagainya. Sementara itu di lingkungan yang gersang, panas, dan tandus, penduduknya cenderung bersifat keras dan berani mati. Lebih lanjut Muchlas Samani dan Hariyanto (2011:43) mengemukakan bahwa karakter dapat dimaknai sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
            Mengacu pada berbagai pengertian karakter dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi karakter, maka secara sederhana pendidikan karakter adalah hal positif apa saja yang dilakukan guru dan berpengaruh kepada siswa yang diajarnya. Winton (2010) sebagai kutip Samani bahwa pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada siswanya. Menurut Burke (2010) sebagai dikutip Samani (2011:43) bahwa pendidikan karakter semata-mata merupakan bagian dari pembelajaran yang baik dan merupakan bagian yang fundamental dari pendidikan yang baik.
            Thomas Lickona (1991) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. Secara sederhana, Lickona mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya dirancang secara sengaja untuk memperbaiki karakter para siswa. Sementara itu Alfie Kohn, dalam Noll (2006) menyatakan bahwa pada hakikatnya “pendidikan karakter dapat didefinisikan secara luas atau sempit. Dalam makna yang luas pendidikan karakter mencakup hampir seluruh usaha sekolah di luar bidang akademis terutama yang bertujuan untuk membantu siswa tumbuh menjadi seseorang yang memiliki karakter yang baik. Dalam makna yang sempit pendidikan karakter dimaknai sebagai sejenis pelatihan moral yang merefleksikan nilai tertentu” (Muchlas Samani dan Hariyanto, 2011:44-45).
                Jadi, pendidikan karakter adalah proses pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, pendidikan akhlak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.
Dalam terminologi Islam, pengertian “karakter” memiliki kedekatan pengertian dengan pengertian “akhlak”. Kata akhlak berasal dari bahasa Arab  khlaqa  yang berarti perangai, tabiat dan adat istiadat. Menurut pendekatan etimologi, pendekatan “akhlak” atau akhlâq berasal dari bahasa Arab jamak dari bentuk mufradnya  khuluqun  (ﺨﻠﻖ) yang secara bahasa diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat ini mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khlaqun (ﺨﻠﻖ) yang berarti pencipta dan makhlûq (ﻤﺨﻠﻮﻖ) yang berarti yang diciptakan (Zahruddin AR dan Hasanauddin Sinaga, 2004:1-2).
Pola bentukan definisi “akhlak” di atas muncul sebagai mediator yang menjembatani komunikasi antara Khâliq (Pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) secara timbal balik, yang kemudian disebut sebagai habl min Allâh yang verbal, biasanya lahirlah pola hubungan antarsesama manusia yang disebut dengan habl min al-Nâs (pola hubunan antarsesama makhluk).
Ibnu Athir dalam bukunya al-Nihâyah menjelaskan bahwa hakikat makna khuluq tersebut ialah gambaran batin manusia yang tepat (yaitu jiwa dan sifat-siftanya),  sedangkan khalqun merupakan gambaran bentuk luarnya (raut muka, warna kulit, dan tinggi rendah tubuhnya)”. Senada dengan pendapat Ibnu Athir , Imam al-Ghazali menyatakan  bahwa bilamana orang mengatakan si A itu baik khalqu-nya dan khuluq-nya, berarti si A itu baik sifat lahir dan sifat batinnya. Berpijak pada sudut pandang kebahasaan, definisi akhlak dalam pengertian sehari-hari disamakan dengan “budi pekerti”, kesusilaan, sopan santun, tata krama (versi bahasa Indonesia) sedang dalam bahasa Inggrisnya disamakan dengan istilah moral atau ethic (Zahruddin AR dan Hasanauddin Sinaga, 2004:1-2).  
Dalam tinjauan kebahasaan, Abd. Hamid Yunus menyatakan bahwa akhlak ialah segala sifat manusia yang terdidik. Memahami ungkapan tersebut bisa dimengerti sifat/potensi yang dibawa sejak lahir: artinya, potensi ini sangat tergantung dari cara pembinaan dan pembentukannya. Apabila pengaruhnya positif, outputnya adalah akhlak mulia; sebaliknya apabila pembinaannya negatif, yang terbentuk adalah akhlak tercela.
Firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Syams ayat 8 menegaskan:
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kebajikan dan ketakwaannya”.     

Al-Ghazali (1994:31) mendefinisikan akhlak adalah suatu perangai (watak/tabiat) yang menetap dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya secara mudah dan ringan tanpa dipikirkan atau direncanakan sebelumnya”. Senada dengan al-Ghazali, definisi akhlak yang dikemukakan Ibn Miskawaih (1994:56), yaitu suatu keadaan jiwa yang menyebabkan timbulnya perbuatan tanpa melalui pertimbangan dan dipikirkan secara mendalam.
Husin al-Habsy dalam Kamus al-Kautsar mengartikan “akhlak “ sebagai ilmu tata krama, ilmu yang berusaha mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberi nilai kepada perbuatan baik atau buruk sesuai dengan norma-norma dan tata susila. Farid Ma‘ruf mendefinisikan akhlak sebagai kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran terlebih dahulu. M. Abdullah Daraz mendefinisikan akhlak sebagai suatu kekuatan dalam kehendak yang mantap, kekuatan berkombinasi membawa kecenderungan pada pemulihan tindakan yang benar (akhlak baik) atau tindakan yang jahat (akhlak buruk) (M. Yatimin Abdullah, 2007:4). Ahmad Amin memberikan pengertian akhlak ialah kehendak yang dibisakan. Artinya kehendak itu bila membiasakan sesuatu, kebiasaan itu dinamakan akhlak Menurut Ahmad Amin, kehendak merupakan ketentuan dari beberapa keinginan manusia setelah bimbang, sedang kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah melakukannya. Masing-masing dari kehendak dan kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari dua kekuatan itu menimbulkan kekuatan yang lebih besar. Kekuatan yang besar inilah yang bernama akhlak. Apabila kebiasaan menghasilkan suatu perbuatan baik disebut akhlâq karîmah, bila menghasilkan perbuatan buruk disebut akhlâq madzmûmah (Zahruddin AR dan Hasanauddin Sinaga, 2004:4).
Muslim Nurdin (1993:205) mengatakan bahwa akhlak adalah seperangkat nilai yang dijadikan tolok ukur untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan atau suatu sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manussia. Soegarda Poerbakawatja (1976:9) juga mengatakan bahwa akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan, dan kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia.
Dari pemaparan di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mendasar antara akhlak dan karakter atau budi pekerti. Keduanya bisa dikatakan, kendati pun tidak dipungkiri ada sebagian pemikir yang tidak sependapat dengan mempersamakan kedua istilah tersebut.   
Sekarang beralih kepada penjelasan mengenai nilai agama dan nilai budaya. Namun sebaiknya penulis perlu membahas terlebih dahulu mengenai teori nilai. Dalam bahasa Indonesia “nilai” merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris value, berasal dari bahasa Latin valere atau bahasa Prancis Kuno valoir. Sebatas arti denotatifnya, valere, valoir, value dan nilai dapat dimaknai sebagai harga. Namun, ketika kata tersebut sudah dihubungkan dengan suatu objek atau dipersepsi dari sudut pandang tertentu, harga yang terkandung di dalamnya memiliki tafsiran yang bermacam-macam. Ada harga menurut ilmu ekonomi, psikologi, sosiologi, antropologi, politik, maupun agama. Perbedaan tafsiran tentang harga suatu nilai lahir bukan hanya disebabkan oleh perbedaan minat manusia terhadap hal yang material atau terhadap kajian-kajian ilmiah, tetapi lebih dari itu, harga suatu nilai perlu diartikulasikan untuk menyadari dan memanfaatkan makna-makna kehidupan (Rohmat Mulyana, 2004:7). 
Perbedaan cara pandang mereka dalam memahami nilai telah berimplikasi pada perumusan definisi nilai yang masing-masing memiliki tekanan yang berbeda. Berikut ini dikemukakan empat definisi yang masing-masing memiliki perbedaan.
Menurut Gordon Allport (1964) bahwa nilai adalah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihannya. Menurut Kuperman (1983), nilai adalah patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif. Menurut Hasn Jonas (1999) bahwa nilai adalah alamat sebuah kata “ya” (value is address of a yes) atau nilai adalah sesuatu yang ditunjukkan dengan kata “ya”. Menurut Kluckohn mendefinisikan nilai sebagai konsepsi (tersirat atau tersurat, yang sifatnya membedakan individu atau ciri-ciri kelompok) dari apa yang diinginkan, yang mempengaruhi pilihan terhadap cara, tujuan antara dan tujuan akhir tindakan (Rohmat Mulyana, 2004:9-10). Menurut Rohmat Mulyana (2004:11) dalam bukunya Mengartikulasikan Pendidikan Nilai mengemukakan bahwa untuk kebutuhan pengertian nilai yang lebih sederhana namun mencakup keseluruhan aspek yang terkandung dalam empat definisi di atas, kita dapat menarik suatu definisi baru, yaitu: Nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Definisi ini dapat mewakili empat definisi yang diajukan, walaupun ciri-ciri spsesifik seperti norma, keyakinan, cara, tujuan, sifat, dan ciri-ciri nilai tidak diungkapkan secara eksplisit.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2005:963) nilai diartikan sebagai sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan; sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.
Selanjutnya hakikat makna agama. “Agama” (religion) merupakan himpunan doktrin, ajaran, serta hukum-hukum yang telah baku yang diyakini sebagai kodifikasi perintah Tuhan untuk manusia (Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarok, 2004:3). Sedangkan makna budaya sebagaimana diungkapkan Koentjaraningrat (2009:144) mengemukakan bahwa kebudayaan dalam bahasa sehari-hari dibatasi hanya pada hal-hal yang indah, seperti candi, tari-tarian, seni rupa, seni suara, kesusastraan, dan filsafat saja. Sedangkan kebudayaan dalam ilmu antropologi adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Hal ini menunjukkan dengan jelas afinitas hakikat pendidikan di dalam kebudayaan.  
Hubungan agama dan budaya, Nurcholish Madjid menjelaskan bahwa agama dan budaya adalah dua bidang yang dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan. Agama bernilai mutlak, tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat. Sedangkan budaya, sekalipun berdasarkan agama, dapat berubah dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat. Sebagian besar budaya didasarkan didasarkan pada agama; tidak pernah terjadi sebaliknya. Oleh karena itu, agama adalah primer, dan budaya adalah sekunder. Budaya bisa merupakan ekspresi hidup keagamaan, karena ia subordinat tewrhadap agama, dan tidak pernah sebaliknya  (Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarok, 2004:34).
Dalam pandang Harun Nasution bahwa agama pada hakikatnya mengandung dua kelompok ajaran. Kelompok pertama, ajaran dasar yang diwahyukan Tuhan melalui para rasul-Nya kepada masyarakat manusia. Ajaran dasar ini terdapat dalam kitab-kitab suci. Ajaran-ajaran yang terdapat dalam kitab-kitab suci itu memerlukan penjelasan, baik mengenai arti maupun cara pelaksanaannya. Penjelasan-penjelasan ini diberikan oleh para pemuka atau ahli agama. Penjelasan-penjelasan mereka terhadap ajaran dasar agama adalah kelompok kedua dari ajaran agama. Kelompok pertama, karena merupakan wahyu dari Tuhan, bersifat absolut, mutlak benar, kekal, tidak berubah dan tidak bisa diubah. Kelompok kedua, akrena merupakan penjelasan dan hasil pemikiran pemuka atau ahli agama, pada hakikatnya tidaklah absolut, tidak mutlak benar, dan tidak kekal. Kelompok kedua ini bersifat relatif, nisbi, berubah, dan dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman (Atang Abdul Hakim dan Jaih Mubarok, 2004:34).
Dari uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa yang dimaksud dengan nilai agama adalah konsep mengenai berbagai masalah pokok, mendasar dan sangat penting dalam kehidupan manusia berdasarkan ajaran agama yang dijadikan pedoman bagi tingkah laku manusia. Sedangkan nilai budaya merupakan konsep abstrak mengenai berbagai masalah pokok, mendasar dan sangat penting dalam kehidupan manusia berdasarkan hasil cipta, karya dan rasa manusia, yang dijadikan pedoman bagi tingkah laku manusia.   

2.      Penyebab Memudarnya Pendidikan Karakter di Sekolah
Menurut Thomas Lickona (1993:3) bahwa hal-hal yang meyebabkan memudarnya pelaksanaan pendidikan karakter adalah: (1) Darwinisme yang mengintroduksi metafora baru, evolusi, yang memandu orang untuk melihat segala-galanya hanya sebagai materi, sehingga moralitas semacam ini di masyarakat berubah secara berkelanjutan; (2) Filafat positivisme logis yang datang ke Amerika Serikat dari Eropa, yang secara radikal membedakan antara fakta (yang dapat dibuktikan secara ilmiah) dengan nilai (yang oleh positivisme dipandang semata-mata sebagai ekspresi perasaan yang tidak merupakan kebenaran objektif). Sebagai dampak dari positivisme, moralitas menjadi relatif dan terprivatisasi –semata-mata dan dianggap sebagai pertimbangan personal-bukan subjek bagi perdebatan  umum dan tidak perlu ditransmisikan melalui sekolah.     
Sementara itu Tatman, Edmonson, dan Slate (2009) disamping mengafirmasi Lickona juga menambahkan bahwa penyebab memudarnya implementasi pendidikan karakter di Amerika Serikat pada tahun 1960-an adalah hadirnya tiga daya yang amat kuat, yaitu personalisme, pluralisme dan sekularisme. Mengutip Lickona (1993) Tatman, Edmonson, dan Slate menulis: “Personalisme menekankan pada pentingnya hak-hak individu dan kebebasan dari pertanggungjawaban, sehingga mendelegitimasi otoritas moral, menghapus kepercayaan terhadap norma-norma moral yang objektif, memalingkan pandangan orang-orang ke arah pemenuhan kebutuhan diri, dan memperlemah komitmen sosial.” Pluralisme mengedepankan pertanyaan nilai-nilai siapa (warga negara Amerika Serikat keturunan bangsa apa, dari negara mana) yang harus diajarkan di sekolah-sekolah umum, sedangkan sekularisasi mengobarkan debat apakah pendidikan moral hanya merupakan tanggungjawab gereja atau tanggungjawab gereja bersama negara.
Menurut Azyumardi Azra (2006:179-181) bahwa sejauh menyangkut krisis mentalitas dan moral peserta didik, terdapat beberapa masalah pokok yang turut menjadi akar krisis mentalitas dan moral di lingkungan pendidikan nasional. Pertama, arah pendidikan telah kehilangan objektivitasnya. Sekolah dan lingkungannya tidak lagi merupakan tempat peserta didik melatih diri untuk berbuat sesuatu berdasarkan nilai-nilai moral dan akhlak, di mana mereka mendapat koreksi tentang tindakan-tindakannya; salah atau benar, baik atau buruk. Dengan kata lain, terdapat keengganan di lingkungan guru untuk menegur peserta didik yang melakukan tindakan-tindakan peserta didik yang kurang pada tempatnya. Banyak guru merasa tidak memiliki wibawa yang memadai untuk menegur peserta didiknya, yang mungkin secara sosial-ekonomi lebih tinggi daripada para gurunya. Kenyataan ini jelas berkaitan erat dengan rendahnya tingkat sosial-ekonomi dan kesejahteraan guru.
            Kedua, proses pendewasaan diri tidak berlangsung baik di lingkungan sekolah. Lembaga pendidikan selain berfungsi pokok untuk mengisi kognisi, afeksi dan psikomotorik peserta didik, sekolah sekaligus juga bertugas untuk mempersiapkan mereka meningkatkan kemampuan merespon dan memecahkan masalah-masalah dirinya sendiri maupun orang lain.
            Ketiga, proses pendidikan di sekolah sangat membelenggu peserta didik dan bahkan juga para guru. Hal ini bukan hanya karena formalisme sekolah yang cenderung sangat ketat, juga karena beban kurikulum yang sangat berat (overloaded). Akibatnya, hampir tidak tersisa lagi ruang bagi para peserta didik untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas kognisi, afeksi dan psikomoriknya. Lebih parah lagi, interaksi yang berlangsung di sekolah telah hampir kehilangan human dan personal touch-nya, bagaikan pabrik yang menghasilkan produk-produk serba mekanistis dan robotis.
            Keempat, beban kurikulum yang demikian berat, lebih parah lagi, hampir sepenuhnya diorientasikan pada pengembangan ranah kognitif belaka. Di pihak lain, ranah afeksi dan psikomotorik hampir tidak mendapat perhatian untuk pengembangan sebaik-baiknya. Padahal pengembangan kedua ranah ini sangat penting dalam pembentukan akhlak, moral, budi pekerti atau singkatnya, watak dan karakter yang baik.
            Kelima, kalaupun ada materi yang dapat menumbuhkan rasa afeksi–seperti mata pelajaran agama–misalnya, umumnya disampaikan dalam bentuk verbalisme, yang juga disertai dengan rote-memorizing. Akibatnya, mata pelajaran agama cenderung hanya sekadar untuk diketahui dan dihafalkan agar lulus ujian, tetapi tidak untuk diinternalisasikan dan dipraktikkan.
            Keenam, pada saat yang sama para peserta didik dihadapkan kepada nilai-nilai yang sering bertentangan (contadrictory set of values). Pada satu pihak, mereka diajar para guru pendidikan agamanya untuk bertingkah laku yang baik, jujur, hemat, rajin, disiplin dan sebagainya, tetapi pada saat yang sama, banyak orang di lingkungan sekolah justru melakukan tindakan berlawanan dengan hal-hal seperti itu, bahkan kalangan sekolah sendiri.
            Ketujuh, selain itu para peserta didik juga mengalami kesulitan dalam mencari contoh teladan yang baik (uswah hasanah/living moral exemplary) di lingkungannya. Mereka mungkin menemukan teladan yang baik di lingkungan sekolah, di dalam guru tertentu. Namun, mereka kemudian sulit menemukan keteladanan dalam lingkungan di luar sekolah.
Menurut Abudin Nata (2003:191-194) bahwa adanya fenomena sebagaimana telah diuraikan di atas, tentunya disebabkan oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah sebagai berikut: pertama, kesalahan paradigma pendidikan. Kesalahan paradigma ini telah mengakibatkan kesalahan pula dalam praksis atau proses pendidikan. Kedua, longgarnya pegangan terhadap agama. Ketiga, kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah tangga, sekolah maupun masyarakat. Keempat, derasnya arus budaya materialistik, hedonistik dan sekularistik. Kelima, pemerintah belum menunjukkan kemauan yang sungguh-sungguh untuk melakukan pembinaan moral bangsa.
Kesalahan paradigma pendidikan ditandai dengan pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran masih diarahkan pada pencerdasan yang bersifat kognitif. Pada tataran ini pun, kecerdasan intelektual yang bersifat kognitif masih terbatas pada pengembangan kemampuan menghafal, transfer pengetahuan (transfer of knowledge) dan keterampilan menyelesaikan soal-soal ujian. Pengembangan kognitif yang lainnya masih diabaikan, misalnya pengembangan kognitif untuk meningkatkan daya kritis. Proses pendidikan kita selama ini bersifat fisik dan intelektualistik, yaitu cenderung pada pengembangan aspek fisik (jasmani) dan aspek intelektual (aql) saja. Sementara kurang memperhatikan aspek emosional, spiritual (qalb), moral, etika dan akhlak atau dengan kata lain pendidikan kita lebih menekankan aspek kognitif, kurang memperhatikan aspek afektif dan psikomotorik.

3.      Humanisme-Teosentris sebagai Paradigma Pendidikan Karakter
Ilmu pendidikan dalam konstruksi konseptualnya didasarkan pada pemahaman tentang hakikat manusia, karena pendidikan itu sendiri untuk “memanusiakan” manusia. Malik Fadjar (2005:181) mengemukakan bahwa pendidikan merupakan proses humanisasi atau pemanusiaan manusia. Suatu pandangan yang mengimplikasikan proses kependidikan dengan berorientasi kepada pengembangan aspek-aspek kemanusiaan manusia, baik secara fisik-biologis maupun ruhaniah-psikologis. Senada dengan itu, Tilaar (2004:40) menyebutnya,  pendidikan sebagai proses hominisasi dan humanisasi.
Dalam perspektif Islam, pemahaman konsep manusia tentunya didasarkan pada wahyu, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Hakikat manusia menurut al-Qur’an disebut juga antroposentris-Qur’ani dalam istilah Amin Abdullah (1995:19), atau humanisme-teosentrik menurut istilah Kuntowijoyo (1996:168), atau juga disebut antroposentris-teistik. Hal ini didasarkan pada bahwa yang paling memahami tentang hakikat manusia tentunya yang menciptakan manusia itu sendiri, yaitu Allah Saw. Maka jika kita ingin memahami tentang hakikat manusia, bertanyalah kepada Allah.  Bertanya kepada Allah berarti kita dituntut memahami firman-firman-Nya yang ada dalam al-Qur’an. Sementara itu, al-Qur’an menginformasikan bahwa manusia memiliki potensi-potensi yang disebut dengan fithrah. Maka implikasinya tugas pendidikan Islam ialah mengembangkan potensi-potensi (fithrah) tersebut sesuai dengan ajaran Islam.
Istilah antroposentris-teistik sesungguhnya perpaduan antara antroposentrisme dan teisme. Kata teisme dimaksudkan untuk memberi sifat antroposentrisme, maka menjadi antroposentris-teistik, sehingga secara eksplisit berbeda dengan antroposentrisme naturalistic, antroposentrisme scientific, atau antroposentrisme rasional yang sekuler. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perkataan “antroposentris” (anthropocentric) artinya berpusat pada manusia. Antroposentrisme adalah ajaran (humanisme) yang menyatakan bahwa pusat alam semesta adalah manusia (KBBI, 2005:58). Menurut Achmadi (2008:21) bahwa antroposentrisme merupakan ajaran humanisme, di mana sejak awal abad 20 sampai sekarang merupakan konsep kemanusiaan yang sangat berharga karena konsep ini sepenuhnya memihak kepada manusia, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dan memfasilitasi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia untuk memelihara dan menyempurnakan keberadaannya sebagai makhluk paling mulia. Karena begitu berharganya konsep humanisme ini, maka dewasa ini terdapat sekurang-kurangnya empat aliran penting yang mengklaim sebagai pemilik asli konsep humanisme, yaitu: (1) Liberalisme Barat, (2) Marxisme,  (3) Eksistensialisme, dan (4) Agama. 
Walaupun keempat aliran itu memiliki perbedaan yang tajam bahkan saling bertentangan, namun mereka memiliki titik-titik kesepakatan mengenai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan sebagai nilai universal. Dalam hal ini Ali Shariati (1996:47-49) mendeskripsikannya ke dalam tujuh prinsip:
(1)     Manusia adalah makhluk asli, artinya ia mempunyai substansi yang mandiri di antara makhluk-makhluk lain, dan memiliki esensi kemuliaan.
(2)     Manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas yang merupakan kekuatan paling besar dan luar biasa. Kemerdekaan dan kebebasan memilih adalah dua sifat Ilahiyah yang merupakan ciri menonjol dalam diri manusia.
(3) Manusia adalah makhluk yang sadar (berfikir) sebagai karakteristik manusia yang paling menonjol. Sadar berarti manusia dapat memahami realitas alam luar dengan kekuatan berfikir.
(4)     Manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya sendiri, artinya dia adalah makhluk hidup satu-satunya yang memiliki pengetahuan budaya dan kemampuan membangun peradaban.
(5)     Manusia adalah makhluk yang kreatif, yang menyebabkan manusia mampu menjadikan dirinya makhluk sempurna di depan alam dan di hadapan Tuhan.
(6)     Manusia adalah makhluk yang punya cita-cita dan merindukan sesuatu yang ideal, artinya dia tidak menyerah dan menerima “apa yang ada”, tetapi selalu berusaha mengubahnya menjadi “apa yang semestinya”.
(7)     Manusia adalah  makhluk moral, yang hal ini berkaitan dengan masalah nilai (value).
Ketujuh prinsip dasar kemanusiaan tersebut diakui oleh hampir semua aliran filsafat. Bahkan ideologi-ideologi kontemporer seperti feminisme, pluralisme, dan posmodernisme bertolak dari pandangan humanisme ini. Bedanya, bagi humanisme sekuler yang dilatarbelakangi eksistensialisme misalnya, hanya mengakui manusia sebagai makhluk yang wujud dengan sendirinya di alam semesta, tidak terdapat bagian atau karakteristik tertentu yang datang dari Tuhan. Humanisme sekuler lainnya telah mengambil moral kemanusiaan seluruhnya dari agama, dengan menegasikan Tuhan, sebagaimana dinyatakan bahwa pendidikan spiritual dalam nisbahnya dengan keutamaan-keutamaan moral dapat dicapai tanpa keyakinan terhadap Tuhan (Ali Shariati, 1996:46). 
Dalam perspektif Islam, manusia dilahirkan dalam keadaan suci (fithrah). Dengan kefitrahan yang dimilikinya, manusia harus menyatakannya dalam sikap yang suci dan baik kepada sesama manusia dalam pergumulannya. Menurut Nurcholish Madjid (2003:179) menjelaskan bahwa karena fithrah-nya itu manusia memiliki sifat dasar kesucian, yang kemudian harus dinyatakan dalam sikap-sikap yang suci dan baik kepada sesamanya. Sifat dasar kesucian itu disebut hanifiyyah karena manusia adalah makhluk yang hanif. Sebagai makhluk yang hanif itu manusia memiliki dorongan naluri ke arah kebaikan dan kebenaran atau kesucian. Pusat dorongan hanifiyyah itu terdapat dalam dirinya yang paling mendalam dan paling murni, yang disebut (hati) nurani, artinya “bersifat nur atau cahaya (luminous).”
Kesucian kemanusiaan itu sendiri dapat ditafsirkan sebagai kelanjutan perjanjian primordial antara manusia dan Tuhan. Yaitu suatu perjanjian atau ikatan janji antara manusia sebelum ia lahir ke dunia dengan Tuhan, bahwa manusia akan mengakui Tuhan sebagai Pelindung dan Pemelihara (Rabb) Satu-satu-Nya baginya. Maka manusia (dan jin) pun tidaklah diciptakan Allah melainkan dengan kewajiban tunduk dan menyembah kepada-Nya saja, yaitu menganut paham Ketuhanan Yang Maha Esa, tawhîd. Maka ber-tawhîd dengan segala konsekuensinya itulah makna hakiki hidup manusia, yaitu suatu makna hidup atas dasar keinsafan bahwa manusia berasal dari Tuhan dan kembali kepada-Nya. Makna hidup yang hakiki itu melampaui tujuan-tujuan duniawi (terrestrial), menembus tujuan-tujuan hidup ukhrawi (celestial) (Nurcholish Madjid, 2003:179).
Dengan pernyataan al-Quran bahwa, manusia diciptakan dalam keadaan fithrah artinya kemampuan bawaan dan intuitif manusia untuk membedakan mana yang benar dan salah itu berarti bahwa, manusia memiliki kecenderungan alamiah kepada kebaikan, kebenaran dan yang suci (hanafiyah). Sebagai makhluk yang fithrah dan hanafiyah, manusia selalu memiliki potensi untuk bersikap benar dan berperilaku baik dalam berbagai pemikiran, maksud dan perbuatannya (Ruslani, 2000:162-1630). Menurut Nurcholish Madjid (1999:148) bahwa Islam mengajarkan bahwa, manusia adalah makhluk  yang pada dasarnya adalah baik dan benar (fithrah-hanif). Oleh karena manusia sebagai makhluk tertinggi dan sebaik-baik ciptaan Tuhan, maka Allah kemudian memuliakannya dibandingkan dengan makhluk lain di bumi. Karena itu Islam memandang bahwa setiap jiwa manusia memiliki harkat dan martabat yang sama nilainya dengan manusia yang lainnya. Sebuah nilai humanistik yang universal dalam ajaran Islam.
Islam dengan demikian, memiliki komitmen yang kuat untuk menjadikan humanisme sebagai sebuah sikap positif dalam membangun manusia yang adil dan beradab serta memiliki komitmen dan solidaritas yang tinggi terhadap senasib sepenanggungan dengan komunitas manusia lainnya, tanpa membedakan di antara sesama mereka. Karena itu, seorang muslim dituntut untuk menjadi humanis tanpa harus membedakan masyarakat yang digumulinya. Sikap humanistik yang ditunjukkan terletak pada kesiapannya dalam menerima dan bekerja sama dengan pemikiran di luar Islam dalam membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan dan ketimpangan sosial. Maka bagi Nurcholish Madjid, bahwa manusia harus kembali kepada sifat naturalnya, yaitu fitrahnya yang suci. Dari sini sesungguhnya manusia dapat memulai untuk mendaftarkan kembali nuktah-nuktah pandangan dasar kemanusiaannya (Nurcholish Madjid,  2003:192).
Humanisme dalam Islam menjadikan perhatian utamanya terhadap moralitas Islam yang berpijak pada komitmen kemanusiaan sebagai dasar dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi umat manusia. Islam dengan seluruh cita-cita yang dimilikinya, sebagai sebuah kerangka dalam meletakkan fondasi untuk sebuah pandangan dunia yang humanistik. Pandangan humanisme seperti ini dimaksudkan untuk menampilkan Islam sebagai rahmah li âl-‘alamîn tanpa harus membedakan latar belakang agama, suku, dan ideologi. Sehingga bagi Kuntowijoyo (1996:167), Islam adalah sebuah agama yang humanistik. Dimana sebuah agama yang menekankan manusia sebagai tujuan sentral inilah sesungguhnya nilai dasar Islam.
Dalam perspektif Islam, humanisme harus dipahami sebagai suatu konsep dasar kemanusiaan yang tidak berdiri bebas. Artinya bahwa makna “memanusiakan manusia” harus selalu terkait secara teologis. Dalam konteks inilah, al-Qur’an memandang manusia sebagai “wakil” atau “khalifah” Allah di bumi. Untuk memfungsikan kekhalifahannya, Tuhan telah melengkapi manusia potensi intelektual dan spiritual sekaligus (Abu Hafsin, 2007:ix). Karena itu menurut Kuntowijoyo (1999:168) humanisme Islam adalah humanisme yang bercirikan teosentrik, yaitu sebuah agama yang memusatkan dirinya pada keimanan terhadap Tuhan sekaligus mengarahkan perjuangannya untuk kemuliaan peradaban umat manusia. Prinsip humanisme seperti inilah yang kemudian ditransformasikan sebagai sebuah nilai dalam pergumulannya dengan realitas kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang mengitarinya.
Menurut M. Amin Abdullah (1995:19) bahwa terjadi proses pencampuran yang kental dan pekat antara dimensi “historis-kekhalifahan” yang aturannya selalu berubah-ubah, lantaran tantangan zaman dan “normativitas” al-Qur’an yang shâlihun likulli zamânin wa makân. Pergumulan antara das sein (historisitas-kekhalifahan) dan das sollen (normativitas-al-Qur’an) sebenarnya dimulai sejak awal kehidupan manusia yang tersimbolkan dalam perjuangan dan sejarah hidup Nabi Muhammad Saw. dan para Nabi sebelumnya. Maka dalam upaya memahami kembali pesan-pesan moral keagamaan dan kemanusiaan yang berdimensi histories-antroponsentris adalah suatu keharusan dan kemestian. Keharusan tidaklah berarti “membongkar” wilayah normativitas ajaran Islam, akan tetapi sebagai upaya artikulatif terhadap historitas ajaran Islam agar sesuai dengan semangat zaman dan tuntutan peradaban kemanusiaan kontemporer.
Dengan demikian, haruslah disadari bahwa hanya melalui pemahaman terhadap teks al-Qur’an yang komprehensiflah akan dapat ditemukan pesan-pesan Islam yang dijadikan sebagai paradigma kemanusiaan, karena teks selama ini menjadikannya sebagai embarkasi pemahaman keagamaan sekaligus terminal akhir terhadap sebuah kebenaran. Teks al-Qur’an bila ditafsirkan secara kaya, tergantung konteks sosial-budaya yang melatarinya dan pembaca itu sendiri (Nasr Hamid, 2001:v). Dengan demikian, persentuhan antara penafsir dengan al-Qur’an merupakan pergulatan yang dinamis dan berusaha melahirkan makna yang bersentuhan langsung dengan realitas kemanusiaan kontemporer.
Dengan semangat perkembangan peradaban manusia modern, penafsiran terhadap al-Qur’an harus mampu memberikan problem solving terhadap realitas kehidupan kekinian sebagai cita-cita humanisme dalam Islam, seperti masalah Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), Demokrasi, Hak Asasi manusia (HAM), pendidikan, kemiskinan, ketidakadilan, penindasan, pencemaran lingkungan hidup dan sederet persoalan kemanusiaan lain yang mengitarinya. Karena itu, gagasan pemikiran seperti itu sudah harus dilakukan, yakni bergeser ke arah paradigma pemikiran berdimensi antroposentris-Qur’ani, yakni terkait dengan kemaslahatan kemanusiaan universal yang dijiwai oleh semangat al-Qur’an (M. Amin Abdullah, 1995:19).
Berdasarkan pada konsep humanisme dalam Islam sebagaimana diuraikan di atas, maka antroposentrisme atau humanisme yang diangkat menjadi paradigma  pendidikan karakter ini pada dasarnya juga bertolak dari prinsip-prinsip dasar kemanusiaan tersebut, karena sesungguhnya semua itu implisit dalam konsep fitrah manusia. Akan tetapi  antroposentrisme dalam pandangan Islam tidak dapat dipisahkan dari prinsip teosentrisme. Di satu sisi keimanan tawhiîd  sebagai inti ajaran Islam, menjadi pusat seluruh orientasi nilai. Semua itu kembali untuk manusia yang dieksplisitkan dalam tujuan risalah Islam sebagai rahmah li ‘al-‘âlamîn, yang berati menjadi kebaikan bagi (lingkungan hidup) semesta alam.

4.      Peran dan Fungsi Pendidikan dalam Pembudayaan Nilai-nilai Karakter
Karakter, kepribadian dan peradaban bangsa terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai, di sinilah peran strategis pendidikan sebagai wahana internalisasi nilai-nilai kepada peserta didik, sehingga ia berpikir, bersikap dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Manusia secara kudrati memiliki nilai-nilai, baik nilai-nilai instrinsik maupun nilai-nilai ekstrinsik pada dirinya.
Manusia merupakan makhluk yang termulia di antara makhluk-makhluk yang lain (lihat Q.S. al-Israâ’:70) dan ia dijadikan oleh Allah dengan sebaik-baiknya bentuk, baik fisik maupun psikisnya (lihat Q.S. al-Tîn:4) serta dilengkapi dengan berbagai alat potensial dan potensi-potensi dasar (fithrah). Potensi-potensi tersebut perlu dikembangkan dan diaktualisasikan seoptimal mungkin melalui proses pendidikan. Di sinilah pendidikan mempunyai peran penting dan strategis dalam mengembangkan potensi positif tersebut secara optimal dan seimbang. Di samping itu, harus disadari pula bahwa manusia juga mempunyai sifat-sifat negatif. Di antara segi-segi negatif manusia itu adalah amat zhalim dan amat bodoh (QS. al-Ahâb:72); manusia adalah makhluk yang lemah (al-Nisî’:28, al-Kahfi:39); manusia adalah makhluk yang banyak membantah dan menentang ajaran Allah (Q.S. al-Kahfi:54); manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. al-Isra’:11);  Manusia mudah lupa dan banyak salah; manusia sering mengingkari nikmat (QS. al-Hajj: 66) dan mengingkari kebenaran ajaran Allah (QS. al-Isrâ’: 89); manusia itu mudah gelisah, dan banyak keluh kesah serta sangat kikir (Q.S. al-Ma’ârij: 19-21, al-Isrâ’:100). Implikasinya pendidikan juga bertugas untuk membimbing dan mengarahkan manusia agar mampu mengendalikan diri dan menghilangkan sifat-sifat negatif yang melekat pada dirinya agar tidak sampai mendominasi dalam kehidupannya, sebaliknya harus mengaktualisasikan sifat-sifat positifnya yang tercermin dalam kepribadiannya.
Hasan Langgulung (2003:1-2) menyatakan bahwa hakikat pendidikan adalah pewarisan kebudayaan dari generasi ke generasi dan pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi. Dengan kata lain, masyarakat mempunyai nilai-nilai budaya yang ingin disalurkan dari generasi ke generasi agar identitas masyarakat tersebut tetap terpelihara.
Ahmad Fu’ad al-Ahwani (1968:9) mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah perpaduan yang menyatu antara pendidikan jiwa, membersihkan ruh, mencerdaskan akal, dan menguatkan jasmani. Di sini yang menjadi bidikan dan fokus pendidikan Islam yang dikemukakan oleh Fuad adalah soal keterpaduan. Hal tersebut bisa dimengerti karena keterbelahan atau disintegrasi tidak menjadi watak dari Islam.
’Umar Muhammad al-Toumy al-Shaibani (t.t.:292) mengemukakan bahwa tujuan tertinggi dari pendidikan Islam adalah persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Tujuan pendidikan adalah untuk memproses manusia yang siap untuk berbuat dan memakai fasilitas dunia ini guna beribadah kepada Allah, bukan manusia yang siap pakai dalam arti siap dipakai oleh lembaga, pabrik atau yang lainnya. Jika yang terakhir ini yang dijadikan tujuan dan orientasi pendidikan, maka pendidikan hanya ditujukan sebagai alat produksi tenaga kerja dan memperlakukan manusia bagaikan mesin dan robot. Pendidikan seperti ini tidak akan mampu mencetak manusia terampil dan kreatif yang memiliki kebebasan dan kehormatan.
Ali Khalil Abu al-Ainaini (1980:167-193) menyatakan bahwa hakikat pendidikan Islam adalah perpaduan antara pendidikan jasmani, akal, akidah, akhlak, perasaan, keindahan, dan kemasyarakatan. Muhammad Quthb (t.t.:17) menyatakan bahwa pendidikan Islam adalah menumbuhkan dan mengembangkan (fithrah) manusia secara utuh dan menyeluruh dengan tidak ada yang tertinggal dan terabaikan sedikitpun;  dari aspek jasmani, akal, dan ruhaninya, kehidupan materiil dan imateriil, dan pada seluruh aktivitas hidupnya di muka bumi.
Majid ’Arsan al-Kilani (1998:13) menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah terwujudnya perubahan-perubahan yang dikehendaki dalam perilaku individu dan membiasakannya dalam kehidupan masyarakat, yaitu individu yang mempunyai karakter atau berkepribadian intelek dan berbudaya tinggi. Karakter tersebut menjadi basis karakter masyarakat yang berperadaban tinggi.
Paulo Freire (1968:19) mengemukakan bahwa pendidikan bertujuan untuk membangkitkan kesadaran manusia bahwa manusia itu mempunyai martabat dan kebebasan dan tidak menyerah kepada berbagai jenis penindasan. Pendidikan adalah proses pembebasan.[2]
Imam Barnadib (2003:xi-xii) mengemukakan bahwa pendidikan perlu membangun konsep pendidikan yang dapat mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas yang dilandasi dengan nilai-nilai Ketuhanan (ilahiyyah), kemanusiaan, masyarakat (insaniyyah), lingkungan (‘alamiyyah), dan berbudaya. Dari kerangka ini, maka pendidikan Islam harus mengembangkan pendidikan yang integralistik, humanistik, pragmatis, dan berakar pada budaya. Konsep pendidikan integralistik, secara utuh berorientasi pada nilai-nilai Ketuhanan (rabbaniyyah-ilahiyyah), kemanusiaan, (insaniyyah), dan lingkungan alam (‘alamiyyah) pada umumnya sebagai suatu yang integralistik bagi perwujudan kehidupan rahmatan li al-’alamîn. Konsep pendidikan humanistik, pendidikan yang berorientasi dan memandang manusia sebagai manusia dengan menghargai hak-hak asasi manusia, hak untuk menyuarakan pendapat, mengembangkan  potensi berpikir, berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Konsep pendidikan pragmatis, memandang manusia sebagai makhluk fungsional yang perlu melangsungkan, mempertahankan, mengembangkan hidupnya baik secara jasmani maupun rohani serta mewujudkan manusia yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dengan memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Konsep pendidikan berakar pada budaya, dapat mewujudkan manusia yang memahami eksistensinya dengan memiliki kepribadian yang unggul, harga diri, percaya pada kemampuan sendiri, membangun budaya berdasarkan budaya sendiri yang didasarkan pada nilai-nilai ilahiyyah.
Muhammad ‘Athiyah al-Abrashi (t.t.:5) mengemukakan bahwa proses pendidikan Islam banyak dipengaruhi oleh prinsip-prinsip demokrasi. Demokrasi dan pembebasan memberikan kontribusi penting bagi pencapaian tujuan pendidikan Islam. Karena prinsip utama pendidikan adalah mengembangkan berpikir bebas dan mandiri secara demokratis dengan memperhatikan kecenderungan peserta didik secara individual, baik aspek kecerdasan akal maupun bakatnya. Kurikulum pendidikan Islam hendaknya mengacu ke arah pengembangan aspek spiritual, apek moral, dan aspek intelektual serta aspek profesional.
Abdul Munir Mulkhan (2002:86) menyatakan bahwa pendidikan humanistik berakar dari keunikan personalitas manusia, dan humanisasi pendidikan dapat dijalankan dengan bentuk demokratisasi pendidikan. Demokratisasi pendidikan menjadi syarat mutlak bagi terbentuknya suasana dialogis dan humanis.
Sejalan dengan pemikiran tersebut di atas, Dede Rosyada (2004:20) menyatakan bahwa model pembelajaran humanis hanya dapat terwadahi dalam model sekolah demokratis. Lebih lanjut diungkapkan bahwa model sekolah demokratis memiliki ciri-ciri: pertama, akuntabilitas, yaitu kebijakan-kebijakan sekolah-sekolah dalam semua aspeknya dapat dipertanggungjawabkan kepada publik; kedua, pelaksanaan tugas guru senantiasa berorientasi pada peserta didik, guru akan memberikan pelayanan secara individual, berbagai kesulitan peserta didik akan menjadi perhatian guru; dan ketiga, keterlibatan masyarakat dalam sekolah, yaitu sistem pendidikan merupakan refleksi dari keinginan masyarakat. Masyarakat akan berpartisipasi dalam pendidikan dan akan responsif dengan berbagai persoalan sekolah.
Pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh di dalam masyarakatnya, yang bertanggungjawab dan bersifat proaktif dan kooperatif. Masyarakat membutuhkan pribadi-pribadi yang handal dalam bidang akademis, keterampilan atau keahlian dan sekaligus memiliki watak atau keutamaan yang luhur. Singkatnya pribadi yang cerdas, berkeahlian, dan humanis (Theo Riyanto, http://bruderfic.or.id, 2).
Menurut Tilaar (2004:40) Pendidikan adalah proses hominisasi dan humanisasi seseorang dalam kehidupan keluarga, masyarakat, yang berbudaya kini dan masa depan. Lebih Lanjut Tilaar (2002:171) Pendidikan sebagai proses hominisasi dimaksudkan pengembangan manusia sebagai makhluk hidup. Makhluk manusia harus dibesarkan agar dia dapat berdiri sendiri dan memenuhi kebutuhan hidupnya seperti kehidupan biologis yang membutuhkan makanan bergizi, kebutuhan seks, kehidupan ekonomis, termasuk mempunyai lapangan kerja sendiri. Pendidikan sebagai proses humanisasi berarti manusia itu bukan hanya sekadar dapat hidup dan makan, tetapi juga dia bertanggung jawab  terhadap dirinya sendiri dan terhadap kesejahteraan masyarakatnya. Oleh sebab itu dia harus belajar untuk bertanggung jawab, mengenal dan menghayati serta melaksanakan nilai-nilai moral (knowing is doing).
Selanjutnya Tilaar (2002:11) mengemukakan bahwa pendidikan sebagai proses pembudayaan nilai-nilai yang terjadi dalam interaksi antar manusia dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Interaksi tersebut terjadi dalam lingkungan alam (ekologi) yang perlu dilestarikan serta lingkungan sosial-politik-ekonomi yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. Proses pembudayaan atau proses pemanusiaan tersebut harus memperhatikan tuntutan-tuntutan intergenerasi yaitu pelestarian ekologis dan budaya melalui proses pendidikan. Selanjutnya proses pemanusiaan itu merupakan proses interkultural yang melibatkan budaya lokal, nasional, dan global, menuju terciptanya suatu masyarakat madani global yang berbasiskan masyarakat madani Indonesia dengan cirinya yang khas yaitu kebudayaan Indonesia yang bhineka.

5.      Nilai Agama dan Nilai Budaya sebagai Basis Pendidikan Karakter
Ruh agama adalah perdamaian. Persoalan perdamaian sesungguhnya dapat dipahami dari sudut pandang agama. Tugas dan kewajiban manusia sebagai “spesies”  bumi dengan segenap keunggulan yang dimiliki adalah mewujudkan dan memelihara perdamaian. Malik Fadjar (2005:150-153) mengemukakan bahwa agama dihadirkan dengan membawa pesan-pesan perjuangan hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat. Pesan pokok agama pertama, agar manusia memperkokoh ikatan hubungan dengan Tuhan selaku wujud Maha Tinggi yang menguasai hidup mereka dengan alam sekitar. Glosari agama menyebut ikatan hubungan dengan Tuhan dengan kata “îman”. Iman kepada Tuhan mengimplikasikan sikap hidup yang lebih bermakna, dengan cara-cara sebagai berikut: memperkuat sikap hidup yang memandang bahwa hanya kepada Tuhan tempat menyandarkan diri dan menggantungkan harapan; menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya arah dan tujuan kegiatan hidup; memperkuat kesadaran bahwa hidup ini berasal dari dan menuju kepada Tuhan; dan berserah diri dengan sepenuh hati, tulus, dan damai kepada Tuhan. Dengan beberapa dimensi ikatana hubungan manusia dengan Tuhan seperti ini, maka manifestasi hidup kesederajatan (emansipatoris) akan tampak dalam pergaulan hidup manusia.
Pesan pokok agama kedua,   perlunya manusia menyadari bahwa darinya adalah ciptaan Tuhan terbaik di muka bumi ini. Kesadaran ini penting. Melalui kesadaran ini manusia termotivasi untuk senantiasa berimana kepada Tuhan; beramal dengan kebaikan di dunia untuk kepentingan diri dan sosialnya serta alam ini; saling menasihati di antara sesama manusia secara benar dan dengan sikap kesabaran.
Pesan pokok agama ketiga, manusia perlu memahami bahwa ia merupakan great kindship atau bahkan world kindship. Di antara mereka adalah sanak saudara. Manusia dicipta Tuhan dalam kelompok-kelompok (suku, ras, etnik, agama, dan sebagainya), agar mereka saling memahamai dengan pergaulan hidup yang ramah dan penuh kasih sayang (lihat Q.S. al-Hujurât:13). Melalui pesan ini diangankan manusia mampu mengkonstruksi sistem pergaulan yang disemangati rasa saling pengertian dan kerjasama yang baik. Nilai teologis ini menjadi ukuran iman manusia. Iman manusia dianggap belum sempurna bila ia belum :mencintai saudaranya (orang lain) sebagaimana mencintai dirinya. Mencintai orang lain sebagaimana mencintai dirinya merupakan sikap pro-sosial yang religius. Sikap pro-sosial  yang religius ini diyakini mampu mewujudkan kehidupan dunia layaknya sebuah taman yang indah dan menyenangkan.
Pesan pokok keempat, larangan keras agar manusia tidak membuat kerusakan dan saling menumpahkan darah di muka bumi (lihat Q.S. al-Baqarah:30).
Jadi, agama senantiasa mengingatkan pemeluknya untuk menebar kedamaian di bumi. Sedang orang yang berbuat kerusakan dan pembunuhan hanyalah akan merugikan mereka sendiri. Bahkan dengannya ia akan menghilangkan harga diri dan hanya akan menimbulkan kebencian. Oleh karena itu, spiritualitas agama ini haruslah menjadi kerangka acuan bagi segenap manusia untuk mewujudkan perdamaian di bumi.
Menurut Malik Fadjar (2005:153-154) bahwa apa yang diungkap sebagai pesan-pesan pokok agama di atas mempunyai dua kepentingan. Pertama, sebagai pesan semua itu bersifat imperatif. Hal ini sejalan dengan watak asasai manusia yang normatif. Sebagai normative being, manusia menghajatkan ketentuan-ketentuan yang dapat memberikan pencahayaan dan visi bagi kehidupan dalam melaksanakan tugas kebudayaan di bumi (sebagai khalifah). Kedua, pesan-pesan agama itu secara keseluruhan berwajah kemanusiaan dan pemanusiaan. Maka, dengan demikian tidak ada alasan untuk memperlakukan pandangan agama dan pandangan kebudayan secara dualistik. Tegasnya, tidak perlu ada jurang pemisah antara agama dan kebudayaan.
Lebih lanjut Malik Fadjar (2005:154) bahwa proses kebudayaan adalah proses humanisasi. Hidup manusia menyarankan ditegakkannya semangat kesederajatan (emansipatoris). Bahkan kesederajatan harus menjadi sebuah norma budaya universal. Sebagian manusia atas manusia yang lain memiliki kelebihan, sebagai individu maupun kelompok, sangat mungkin terjadi. Namun perasaan lebih yang eksesif yang mengarah kepada dominasi yang menindas, seperti genocide, harus ditampik karena ia merupakan penyimpangan terhadap norma budaya universal. Bentuk penjajahan manusia atas manusia lain harus dilenyapkan.  Sedangkan kesederajatan adalah asas budaya untuk membangun interdependensi. Teori kesederajatan ini perlu diperkokoh dengan spiritualisasi agama, sebagai upaya memasukkan dimensi keimanan dalam pergaulan budaya manusia. Artinya, sifat kesederajatan itu sendiri merupakan resultance dari keimanan seseorang.
Menurut Nurcholish Madjid (2000:98-104) bahwa dalam bahasa al-Qur’an dimensi hidup Ketuhanan ini juga disebut jiwa rabbâniyyah (Q.S. Alu Imran:79) atau ribbiyyah (Q.S. Alu Imran:146). Jika dicoba merinci apa saja wujud nyata atau substansi jiwa Ketuhanan itu, maka kita dapatkan nilai-nilai keagamaan pribadi yang amat penting yang harus ditanamkan kepada anak. Kegiatan menanamkan nilai-nilai itulah yang sesungguhnya akan menjadi inti pendidikan keagamaan. Di antara nilai-nilai Ketuhanan itu yang sangat mendasar ialah: îmân, islâm, ihsân, taqwâ, ikhlâsh, tawakkal, syukûr, shabar, dan lain-lain. Sedangkan nilai-nilai kemanusiaan (budaya) yang patut ditanamkan kepada anak didik kita, di antaranya ialah: Silaturahmi, persaudaraan, persamaan, adil, baik sangka, rendah hati, tepat janji, lapang dada, dapat dipercaya, perwira, hemat, dermawan dan lain-lain.
Menurutr Achmadi (2008:43) bahwa hakikat wujud manusia terdiri dari jasmani dan rohani yang paling mulia. Dari segi jasmani, jasad atau fisisk-biologis manusia asal mulanya dari tanah. Setelah berproses menjadi bentuk manusia dalam al-Qur’an disebut basyar (Q.S. al-Hijr:28), yakni makhluk fisik-biologis. Sebagai makhluk biologis proses kejadiannya dari nuthfah, ‘alaqah, kemudian mudghah (embrio) dan akhirnya terbentuklah janin, yang strukturnya secara gradual lebih sempurna dari binatang (Q.S. at-Tîn:4 dan al-Mu’minûn:13-14). Kebaikan dan kesempurnaannya itu dapat ditinjau dari susunan organ tubuh manusia, terutama susunan syaraf otaknya (cerebrum) yang merupakan organ terpenting karena memiliki fungsi adaptasi dan koordinasi dari semua rangsangan yang diterima oleh panca indra. Dengan struktur demikian itu manusia mampu mengembangkan penalaran, kreativitas, dan kerja produktif. Bahkan dilihat dari gerak dan dinamikanya, sejak lahir manusia menunjukkan arah maju yang apabila dikembangkan dapat menghasilkan gerakan-gerakan yang sangat bervariasi dan bermakna.
Dari segi rohani bahwa setelah pembentukan fisik manusia mendekati sempurna dalam bentuk janin, Allah meniupkan Ruh-Nya kepada manusia dan sejak itu dia benar-benar menjadi makhluk jasmani-ruhani yang mulia sehingga para malaikat pun diperintahkan oleh Allah agar tunduk kepada manusia. Hal ini sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an yang artinya:

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kehidupannya dan telah meniupkan Ruh-ku (ruh ciptaan-Nya) maka tunduklah kamu (para malaikat) kepadanya dengan bersujud”.

Para ulama jumhur sepakat menafsirkan bahwa saat ditiupkan ruh kepada manusia terjadilah getaran Ilahi. Dengan getaran Ilahi tersebut, manusia hidup sebagai makhluk jasmani rohani yang mulia melebihi makhluk lainnya. Yang dimaksud dengan getaran Ilahi itu adalah percikan sifat-sifat kesempurnaan Ilahi yang kita kenal dengan Asmâ’ al-Husnâ  (nama-nama yang indah) yang jumlahnya 99 itu (Q.S. al-A‘râf:180), sehingga memungkinkan manusia hidup dengan berbagai kemampuan dan kewenangan sesuai dengan  Asmâ’ al-Husnâ, dalam batas-batas kemakhlikannya. Dengan Asmâ’ al-Husnâ  al-Rahmân al-Rahîm  (Maha Kasih Sayang) misalnya, maka manusia dapat menampilkan kasih sayangnya kepada sesama. Dengan percikan al-Khâliq (Maha Pencipta) manusia memiliki daya kreativitas untuk mencipta sesuatu yang baru dan berguna. Percikan al-Mulk (Maha Memiliki Segala Kekuasaan) manusia mampu menguasai alam sekitarnya demi kepentingan dan kebaikan diri dan lingkungannya. Dengan percikan al-Quddûs (Maha Suci) manusia dapat membersihkan dirinya dari berbagai tindakan tercela. Dengan percikan al-‘Adl (Maha Adil) manusia mampu berbuat adil. Dengan percikan al-‘Alîm (Maha Mengetahui) manusia cenderung ingin mengetahui segala sesuatu, dan kemudian dia memperoleh ilmu pengetahuan baru. Dengan percikan al-Rabbu (Maha Mendidik, Memelihara) manusia mampu mendidik dirinya sendiri maupun orang lain (Achmadi, 2008:44-45).
Percikan Asmâ’ al-Husnâ  dalam diri manusia merupakan modal dasar untuk berperan sebagai khali>fah (“wakil”, “pengganti”, “duta”)  Allah di bumi. Menurut Nurcholish Madjid (2005:302-303) bahwa kekhalifahan manusia mempunyai implikasi prinsipil yang luas. Disebabkan oleh kedudukannya sebagai “duta” Tuhan di bumi, maka manusia akan dimintai tanggung jawab di hadapan-Nya tentang bagaimana ia melaksanakan tugas suci kekhalifahan itu. Kewajiban untuk bertindak dengan penuh tangung jawab ini merupakan titik mula moralitas manusia, dan membuatnya sebagai makhluk moral, yakni makhluk yang selamanya dituntut untuk mempertimbangkan kegiatan hidupnya dalam kriteria baik dan buruk. Implikasi lain dari kekhalifahan manusia ialah keperluannya kepada kemampuan untuk mengerti alam (lingkungan) tempat ia hidup dan menjalankan tugasnya. Manusia memiliki kemungkinan memahami alam ini karena potensi akal yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Bersamaan dengan itu, kemungkinan manusia memahami  alam juga karena alam ini diciptakan Tuhan dengan “ukuran-ukuran” dan “ketentuan-ketentuan” yang pasti dan tak berubah-ubah, sehingga sampai batas yang amat jauh bersifat “predictable”, manusia dapat memanfaatkan alam ini untuk keperluannya. Guna menunjang hal ini, Tuhan telah menjadikan alam ini “lebih rendah” martabatnya daripada martabat manusia itu sendiri. Maka manusia diharap mempertahankan martabatnya sebagai khalifah Tuhan yang tunduk hanya kepada-Nya, tidak kepada alam atau gejala alam.

6.      Langkah-langkah Strategis dalam Pengembangan Pendidikan Karakter
Pembentukan watak, budaya, karakter dan peradaban bangsa melalui peranan keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan usaha mulia yang mendesak untuk dilakukan. Khusus peran dan tanggung jawab sekolah, bukan hanya mencetak peserta didik yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan kepribadian. Hal ini relevan dan kontekstual bukan hanya di negara-negara yang tengah mengalami krisis karakter seperti Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara maju.
Menurut Azyumardi Azra (2006:176) bahwa setidaknya ada tiga pendekatan usaha pembentukan dan pendidikan karakter melalui sekolah, yaitu: Pertama, menerapkan pendekatan modelling atau exemplary atau uswah hasanah. Yakni mensosialisasikan dan membiasakan lingkungan sekolah untuk menghidupkan dan menegakkan nilai-nilai akhlak dan moral yang benar melalui model atau teladan. Setiap guru dan tenaga kependidikan lain di sekolah hendaklah mampu menjadi uswah hasanah yang hidup (living exemplary) bagi peserta didik. Kedua,  menjelaskan atau mengklarifikasikan kepada peserta didik secara terus menerus tentang berbagai nilai yang baik dan yang buruk. Usaha ini bisa dibarengi pula dengan langkah-langkah; memberi penghargaan (prizing) dan menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik, dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discouraging) berlakunya nilai-nilai yang buruk; menegaskan nilai-nilai yang baik dan buruk secara terbuka dan kontinu; memberikan kesempatan kepada peseta didik untuk memilih berbagai alternatif sikap dan tindakan berdasarkan nilai; melakukan pilihan secara bebas setelah menimbang dalam-dalam berbagai konsekuensi dari setiap pilihan dan tindakan; membiasakan bersikap dan bertindak atas niat dan prasangka baik (husn al-zhan) dan tujuan-tujuan ideal; membiasakan bersikap dan bertindak dengan pola-pola yang baik yang diulangi secara terus menerus dan konsisten. Ketiga, menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (character-based education). Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan character-based approach ke dalam setiap mata pelajaran yang ada di samping mata pelajaran-mata pelajaran khusus untuk pendidikan karakter, seperti pelajaran agama, sejarah, Pancasila, dan sebagainya. Terhadap matapelajaran-matapelajaran terakhir ini, maka perlu dilakukan reorientasi baik dari segi isi/muatan dan pendekatan, sehingga mereka tidak hanya menjadi verbalisme dan sekadar hafalan, tetapi betul-betul berhasil membantu pembentukan karakter.  
Menurut Mansur Muslich (2011:106-107) bahwa kajian tentang aneka pendekatan pendidikan karakter didasarkan pada aneka pendekatan pendidikan nilai berdasarkan kepada berbagai literatur dalam bidang psikologi, sosiologi, filosofi, dan pendidikan yang berhubungan dengan nilai. Selanjutnya, berdasarkan hasil pembahasan dengan para pendidik dan alasan-alasan praktis dalam penggunaannya di lapangan, berbagai pendekatan tersebut telah diringkas menjadi lima tipologi pendekatan, yaitu: (1) pendekatan penanaman nilai; (2) pendekatan perkembangan moral kognitif; (3) pendekatan analisis nilai; (4) pendekatan klarifikasi nilai; (5) pendekatan pembelajaran berbuat.
Menurut A. Malik Fadjar (2005:160-161) ada beberapa hal strategi yang bisa diperankan oleh pendidikan dalam melakukan resolusi atau pengendalian terhadap krisis mentalitas dan moralitas. Pertama, pendidikan sebagai strategi konservasi. Secara visioner dan kreatif pendidikan perlu diarahkan untuk menjaga, memelihara, mempertahankan “aset-aset agama dan budaya” berupa pengetahuan, nilai-nilai, dan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan menyejarah. Nilai-nilai pendidikan humanistik yang dikokohkan dengan agama dipercaya mampu merangkai visi kebudayaan dan peradaban manusia yang bermartabat tinggi dan mulia. Kedua, pendidikan sebagai strategi resotorasi. Secara visioner dan kreatif pendidikan diarahkan untuk memperbaiki, memugar, dan memulihkan kembali aset-aset agama dan budaya yang telah mengalami pencemaran, pembusukan, dan perusakan. Jika tidak direstorasi, maka aset-aset agama dan budaya dikhawatirkan berfungsi terbalik, yaitu merendahkan martabat manusia ke derajat paling rendah dan bahkan lebih rendah dari binatang. Telah dimaklumi bahwa konflik dan kekerasan yang bereskalasi tinggi selama ini adalah bentuk pencemaran, pembusukan, dan perusakan aset-aset agama dan budaya.
Secara teoritis ada dua pendekatan yang ditawarkan banyak pihak dalam menerapkan karakter di sekolah. Pertama, pendidikan karakter diposisikan sebagai mata pelajaran tersendiri. Kedua, pendidikan karakter diposisikan sebagai misi setiap mata pelajaran atau diintegrasikan ke dalam setiap mata pelajaran. Agaknya pendekatan kedua yang menjadi pilihan dalam implementasi pendidikan karakter yang bakal diterapkan di sekolah-sekolah. Hal ini sejalan dengan pernyataan wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal yang ditulis Napitupulu, E.L. bahwa pendidikan karakter didorong oleh pemerintah umtuk dilaksanakan di sekolah-sekolah tidak akan membebani guru dan siswa. Sebab, hal-hal yag terkandung dalam pendidikan karakter sebenarnya sudah ada dalam kurikulum, namun selama ini tidak dikedepankan dan diajarkan secara tersurat. Jadi pendidikan karakter tidak diajarkan dalam mata pelajaran khusus. Namun dilaksanakan melalui keseharian pembelajaran yang sudah berjalan di sekolah (Nurchaili, 2010:237-238).
            Menurut Zubaedi (2011:270) bahwa materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan seehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Setiap guru diharapkan dapat menjadi guru pendidikan karakter dan setiap guru seharusnya berkompeten untuk mendidik karakter peserta didiknya. Banyak pendapat yang menyatakan bahwa pendidikan karakter tidak usah diajarkan khusus sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri. Artinya setiap guru mata pelajaran memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mendidik karakter siswanya.
Pada prinsipnya mendidik karakter bukan hanya menjadi tugas sebagian guru tertentu saja seperti guru PPKn, guru akidah akhlak, guru bimbingan konseling ataupun guru agama. Pendidikan karakter menjadi tanggung jawab kita bersama termasuk di dalamnya seluruh guru mata pelajaran.
Pendidikan karakter menghendaki suatu proses yang berkelanjutan, yang dilakukan melalui berbagai mata pelajaran yang ada dalam kurikulum (kewarganegaraan, sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, bahasa Indonesia, IPS, IPA, matematika, agama, pendidikan jasmani dan olahraga, seni, serta keterampilan). dalam konteks ini, pendidikan harus membangun kesadaran, pengetahuan, wawasan, dan nilai berkenaan dengan lingkungan tempat diri peserta didik hidup (geografi), nilai yang hidup di masyarakat (antropologi), sistem nilai yang berlaku dan sedang berkembang (sosiologi), sistem ketatanegaraan, pemerintahan, dan politik (ketatanegaraan/politik, kewarganegaraan), bahasa Indonesia dengan cara berpikirnya, kehidupan perekonomian, ilmu, teknologi, dan seni. Artinya perlu ada upaya terobosan kurikulum berrupa pengembangan nilai-nilai yang menjadi dasar bagi pendidikan karakter. Dengan terobosan kurikulum yang demikian, nilai dan karakter yang dikembangkan pada diri peserta didik akan sangat kukuh dan memiliki dampak nyata dalam kehidupan diri, masyarakat, bangsa, dan bahkan umat manusia (Zubaedi, 2011:270).
Pendidikan karakter bukan sekadar mengajarkan peserta didik dengan ayat, dalil ataupun teori-teori kebaikan. Guru sebagai ujung tombak terlaksananya pembelajaran hendaknya mampu meramu kurikulum terpadu yang dapat menyentuh seluruh kebutuhan anak. Salah satunya dengan menerapkan kurikulum holistik berbasis karakter. Menurut Sofyan A. Djalil, kurikulum merupakan sebuah kurikulum yang terkait, tidak terkotak-kotak, dan dapat merefleksikan dimensi, keterampilan, dengan menampilkan tema-tema yang menarik dan kontekstual. Bidang-bidang pengembangan misalnya yang dapat dalam mata pelajaran IPA SD dapat dikembangkan dalam konsep pendidikan kecakapan hidup yang terkait dengan pendidikan personal dan sosial, pengembangan berpikir/kognitif, pengembangan karakter dan pengembangan persepsi motorik juga dapat teranyam dengan baik apabila materi ajarnya dirancang melalui pembelajaran yang terpadu dan menyeluruh (holistik) (Zubaedi, 2011:271). 
Secara makro, pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler. Perencanaan dan pelaksanaan pendidikan karakter dilakukan oleh kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan (konselor) secara bersama-sama sebagai suatu komunitas pendidik diterapkan ke dalam kurikulum melalui: (1) program pengembangan diri; (2) pengintegrasian ke dalam semua mata pelajaran; (3) pengintegrasian ke dalam kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler; (4) pembiasaan (habituasi) (Said Hamid Hasan, 2010:15-21).

C.    KESIMPULAN
Dari uraian di atas penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Bahwa penyebab utama memudarnya krisis karakter yang dialami peserta didik disebabkan oleh berbagai faktor. Di antaranya adalah: pertama, kesalahan paradigma pendidikan. Kesalahan paradigma ini telah mengakibatkan kesalahan pula dalam praksis atau proses pendidikan. Kedua, longgarnya pegangan terhadap agama. Ketiga, kurang efektifnya pembinaan moral yang dilakukan oleh rumah tangga, sekolah maupun masyarakat. Keempat, derasnya arus budaya materialistik, hedonistik dan sekularistik. Kelima, pemerintah belum menunjukkan kemauan yang sungguh-sungguh untuk melakukan pembinaan moral bangsa.
2.      Pendidikan dalam perspektif agama, dalam hal ini Islam misalnya, secara normatif sarat dengan nilai-nilai transendental-ilahiyah dan insaniyah. Semua itu diwadahi dalam bingkai besar yang disebut humanisme-teosentris atau antroposentris-teistik. Paradigma humanisme-teosentris atau antroposentris-teistik inilah yang harus dijadikan sebagai paradigma pendidikan karakter dalam Islam. Karena dalam perspektif Islam, humanisme harus dipahami sebagai suatu konsep dasar kemanusiaan yang tidak berdiri bebas. Artinya bahwa makna “memanusiakan manusia” harus selalu terkait secara teologis. Dalam konteks inilah, al-Qur’an memandang manusia sebagai “wakil” atau “khalifah” Allah di bumi. Untuk memfungsikan kekhalifahannya, Tuhan telah melengkapi manusia potensi intelektual dan spiritual sekaligus. Karena itu humanisme Islam adalah humanisme yang bercirikan teosentrik, yaitu sebuah agama yang memusatkan dirinya pada keimanan terhadap Tuhan sekaligus mengarahkan perjuangannya untuk kemuliaan peradaban umat manusia. Prinsip humanisme seperti inilah yang kemudian ditransformasikan sebagai sebuah nilai dalam pergumulannya dengan realitas kehidupan masyarakat dan kebudayaan yang mengitarinya.
3.      Peran dan fungsi pendidikan dapat dilihat dari hakikat pendidikan, yaitu  sebagai pewarisan kebudayaan dari generasi ke generasi dan pengembangan potensi-potensi yang terpendam dan tersembunyi. Dengan kata lain, masyarakat mempunyai nilai-nilai budaya yang ingin disalurkan dari generasi ke generasi agar identitas masyarakat tersebut tetap terpelihara. Secara sosiologis bahwa pendidikan sebagai proses pembudayaan nilai-nilai yang terjadi dalam interaksi antar manusia dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Interaksi tersebut terjadi dalam lingkungan alam (ekologi) yang perlu dilestarikan serta lingkungan sosial-politik-ekonomi yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang beradab. Proses pembudayaan tersebut harus memperhatikan tuntutan-tuntutan intergenerasi yaitu pelestarian ekologi dan budaya melalui proses pendidikan.
4.      Pesan pokok agama pertama, agar manusia memperkokoh ikatan hubungan dengan Tuhan selaku wujud Maha Tinggi yang menguasai hidup mereka dengan alam sekitar. Pesan pokok agama kedua,   perlunya manusia menyadari bahwa darinya adalah ciptaan Tuhan terbaik di muka bumi ini. Pesan pokok agama ketiga, manusia perlu memahami bahwa ia merupakan great kindship atau bahkan world kindship. Bahwa apa yang diungkap sebagai pesan-pesan pokok agama mempunyai dua kepentingan. Pertama, sebagai pesan semua itu bersifat imperatif. Hal ini sejalan dengan watak asasai manusia yang normatif. Sebagai normative being, manusia menghajatkan ketentuan-ketentuan yang dapat memberikan pencahayaan dan visi bagi kehidupan dalam melaksanakan tugas kebudayaan di bumi (sebagai khalifah). Kedua, pesan-pesan agama itu secara keseluruhan berwajah kemanusiaan dan pemanusiaan. Maka, dengan demikian tidak ada alasan untuk memperlakukan pandangan agama dan pandangan kebudayan secara dualistik. Tegasnya, tidak perlu ada jurang pemisah antara agama dan kebudayaan.
5.    Bahwa pembentukan karakter bangsa dapat dilakukan dengan berbagai strategi dan pendekatan, antara lain:  (a) Menerapkan pendekatan modelling atau exemplary atau uswah hasanah; (b) Menjelaskan atau mengklarifikasikan kepada peserta didik secara terus menerus tentang berbagai nilai yang baik dan yang buruk; (c) menerapkan pendidikan berdasarkan karakter; (d) pendekatan penanaman nilai; (e) pendekatan perkembangan moral kognitif; (f) pendekatan analisis nilai; (g) pendekatan pembelajaran berbuat; (h) pendidikan sebagai strategi konservasi; (i) pendidikan sebagai strategi resotorasi;

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Amin. Filsafat Kalam di Era Postmodernisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.
Abdullah, M. Yatimin. Studi Akhlak dalam Perspektif al-Qur’an. Jakarta: Amazah, 2007.
Abdulhakim, Atang dan Jaih Mubarok. Metodologi Studi Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004.
Abrashi>, Muhammad ‘At}iyah. al-Tarbiyyah al-Isla>miyyah wa Fala>safatuha>. Mesir: Isa al-Ba>bi> al-Halabi>, t.t.
Achmadi. Ideologi Pendidikan Islam: Paradigma Humanisme Teosentris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
Aldridge Jerry and Renita Goldman. Current Issues and Trend in Education. Boston:Allyn and Bacon, 2002.
Ahwa>ni>, Ah}mad Fu’ad. al-Tarbiyah  fi> al-Isla>m. Kairo: Da>r al-Ma’a>rif, 1968.
Ainaini, Ali Khali>l Abu>. Falsafah al-Tarbiyah al-Islâmiyyah. Kairo: Da>r al-Fikr al-‘Arabi, 1980.
Almusanna. “Revitalisasi Kurikulum Muatan Lokal untuk Pendidikan Karakter  mellaui Evaluasi Responsif “. dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional, Vol. 16 Edisi Khusus III, Oktober 2010), 247.
Arismantoro (Peny.). Tinjauan Berbagai Aspek Character Building. Yogyakarta:Tiara Wacana, 2008.
Azra, Azyumardi. Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru. Jakarta: Kalimah, 2001.
Baharudin dan Moh. Makin. Pendidikan Humanistik: Konsep, Teori dan Aplikasi Praksis dalam Dunia Pendidikan. Yogyakarta: Al-Ruzz Media, 2007.
Creasy, “What is Character”, dalam Educational Policy, Volume 3, Nomor 12, 6.
Daulay, Haidar Putra. Pendidikan Islam: Dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia. Jakarta: Prenada Media, 2004.
Fadjar, A. Malik. Holistika Pemikiran Pendidikan.  Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005.
Fadhil, al-Djamaly. Menerbas Krisis Pendidikan Dunia Islam. Jakarta: Golden terayon Press, 1988.
Freire, Paulo. Pedagogy of the Oppressed. New York: Praeger, 1968.
Freire, Paulo. Education for Critical Conciousness. New York: Continum, 1981.
Freire, Paulo & Shor, I. A Pedagogy for Liberation: Dialogues on Transforming Education. South Hadley, MA: Bergin and Garvey, 1986.
Ghaza>li>. Mengobati Penyakit Hati Membentuk Akhlak Mulia.Bandung: Kharisma, 1994.
Ghaza>li>, Abu> Hami>d. al-Ih}ya> ‚Ulu>m al-Di>n. Beirut: Da>r al-Nadwah, t.t.
Goleman, Daniel. Emosional Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996.
Ghufron, Anik. “Integrasi Nilai-nilai karakter Bangsa pada Kegiatan Pembelajaran” dalam Cakrawala Pendidikan. Yogyakarta: UNY, Mei 2010,  Th. XXIX, Edisi Khusus Dies Natalis UNY.
Hasan, Said Hamid dkk. “Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter  Bangsa”, Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan Nilai-nilai Budaya untuk Membentuk Daya Saing dan Karakter Bangsa. Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas, 2010.
Habsy, Husain. Kamus al-Kauthar. Surabaya: Assegaf, t.t.
Idrus, Junaidi.  Rekonstruksi Pemikiran Nurcholish Madjid: Membangun Visi dan Misi Baru Islam Indonesia. Yogyakarta:Logung Pustaka, 2004.
Jalal, Fasli. Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa: Tiga Stream Pendekatan. Jakarta: Kemendiknas, 2010.
Kaila>ni>, Maji>d ‘Arsa>n. Tathawwur Mafhum al-Nadhariyyah al-Tarbiyah  al- Isla>miyah.  Dimasq-Berut : Da>r Ibn Katsir, 1985.
Kaila>ni>, Maji>d ‘Arsa>n. Ahda>f al-Tarbiyah al-Isla>miyah. Beirut Libanon: Mu’asasah al-Riya>n, 1998.
Kamdani (penyunting). Islam dan Humanisme: Aktualisasi Humanisme Islam di Tengah Krisis Humanisme Universal. Yogyakarta: IAIN walisongo Semarang Bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 2007.
Kemendiknas. Pembinaan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta:2010.
Kesuma, Dharma, at.al. Pendidikan Karakter: Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2011.
Khun, Thomas S. The Structure of Scientific Revolution: Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.
Kuntowijoyo. Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan, 1991.
Langgulung, Hasan. Asas-Asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna  Baru, 2003.
Langgulung, Hasan. Manusia dan Pendidikan: Suatu Analisa Psikologi, Filsafat dan  Pendidikan. Jakarta: Pustaka Al-Husna Baru, 2004.
Lickona, Thomas,  The Return of Character Education, Character Education, November 1993, Volume 81, Number 3.
Lukmantoro, Triyono. “(Belum) Robohnya Ruang Publik Kami.”  Seputar Indonesia, 13 Juli 2010.
Madjid, Nurcholish. Masyarakat Religius: Membumikan  Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Paramadina, 2000.
Madjid, Nurcholish. Islam Agama Kemanusian:  Memabangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia. Jakarta: Paramadina, 2003.
Madjid, Nurcholish. Cendekiawan dan Religiusitas Masyarakat: Kolom-Kolom di Tabloid Tekad. Jakarta: Paramadina, 1999.
Madjid, Abdul dan Dian Andayani. Pendidikan Karakter Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2011.
Miskawaih, Ibn. Menuju Kesempurnaan Akhlak. Bandung: Mizan, 1994.
Muhaimin et. el. Pemikiran Pendidikan Islam: Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar  Operasionalisasinya,  Bandung: Trigenda Karya, 1993.
Muhaimin. Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2004.
Muhaimin. Nuansa Baru Pendidikan Islam: Mengurai Benang Kusut Dunia Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006.
Mulkhan, Abdul Munir Nalar. Spiritual Pendidikan: Solusi Problem Filosofis Pendidikan Islam.Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.
Mulyana, Rohmat. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta, 2004.
Muslich, Masnur. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimnsional. Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Muthahhari, Murtadha. Perspektif Al-Qur’an tentang Manusia dan Agama. Bandung: Mizan, 1992.
Nahlawi>, Abdurrahma>n. Min Asa>lib al-Tarbiyah al-Isla>miyah: al-Tarbiyah bi al-Ayat. Beirut Libanon: Da>r al-Fikr al-Ma‘a>shir, 1989.
Nata, Abudin. Pendidikan Islam di Era Global: Pendidikan Multikultural, Pendidikan Multi Iman, Pendidikan Agama, Moral dan Etika. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005.
Nurchaili. Membentuk Karakter Siswa melalui Keteladanan Guru”, dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta: balitbang Kemendiknas, Vol. 16, Edisi Khusus III, Oktober 2010.
Nurdin Muslim, at.al. Moral Islam dan Kognisi Islam. Bandung: Alfabeta, 1993.
Perdana, Teguh Iman dan Vera Wahyudi (ed.). Sekolah yang Membebaskan. Jakarta: Dewan Sekolah Alam, 2003.
Poerbakawatja, Soegarda. Ensiklopedia Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung, 1976.
Qomar, Mujamil. Epistemologi Pendidikan Islam: Dari Metode Rasional Hingga Metode Kritik. Jakarta: Erlangga, 2005.
Qut}b, Muhammad. Manha>j al-Tarbiyah al-Isla>miyyah. Mesir, Da>r al-Qalm, tt.
Rahim, Husni. Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: Logos, 2001.
Rosyada, Dede, dkk. Abdul Rozak (ed.). Pendidikan Kewargaan (Civic Education): Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani. Jakarta: Prenada Media, 2005. 
Ruslani. Masyarakat Kitab dan Dialog antar Agama: Studi Pemikiran Muhammad Arkoun. Yogyakarta: 2000.
Samani, Muchlas dan Hariyanto. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2011.
Shaiba>ni, Omar Mohammad Al-Toumy. Falsafah Pendidikan Islam. Terj.  Hasan Langgulung, Jakarta: Bulan Bintang. 1979.
Shariati, Ali. Humanisme antara Islam dan Mazhab Barat. Terj. Afif Muhammad Bandung: Pustaka Hiadayah, 1996.
Soedarsono, Soemarno. Membangun Kembali Jati Diri Bangsa: Peran Penting Karakter dan Hasrat untuk Berubah. Jakarta: Elex Media Komputindo dan Kelompok Kompas Gramedia, 2008.
Sujana, Nana. Penilaian Hasil Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya,1995.
Syamsuddin, M. Din. Etika Agama dalam Membangun Masyarakat Madani.  Jakarta: Logos, 2002.
Tafsir, Ahmad. Filsafat Pendidikan Islami, Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu  Memanusikan Manusia. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006.
Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosda  Karya, 2005.
Tatman, Edmonson, dan Slate,  “Character Education: An Historical Overview” dalam International Journal of Educational Leadership, Volume 4, Number 1, January-March, 2009.
Tholkhah, Imam. Membuka Jendela Pendidikan: Mengurai Akar Tradisi dan Integrasi Keilmuan Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
Tilaar, H.A.R. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional, dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia, 1998.
Tilaar, H.A.R. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani: Strategi Reformasi Pendidikan Nasional.  Bandung: Remaja Rosda Karya,  2002.
Tilaar, H.A.R. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta, 2004
Tim Direktorat Pendidikan Madrasah. Wawasan Pendidikan Karakter dalam Islam. Jakarta: Direktorat Pendidikan Madrasah Kementerian Agama, 2010.
Tim Redaksi. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Deartemen Pendidikan Nasional, Balai Pustaka, edisi ketiga, 2005.
Zahruddin AR dan Hasanauddin Sinaga. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta: Rajawali , 2004.
Zaid, Nasr Hami>d Abu>. Mafhu>m al-Na>s} Dira>sah fi> ‘Ulu>m al-Qur’a>n. diterjemahkan oleh Khairun Nahd}iyyi>n  dengan judul .Tekstualitas Al-qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an. Yogyakarta: LKiS, 2001.
Zubaedi. Desain Pendidikan Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.



[1] Creasy mengartikan pendidikan karakter sebagai upaya mendorong peserta didik tumbuh dan berkembang dengan kompetensi berpikir dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip moral dalam hidupnya serta mempunyai keberanian melakukan yang ‘benar’, meskipun dihadapkan  pada berbagai tantangan. Untuk itu, penekanan pendidikan karakter tidak terbatas pada transfer pengetahuan mengenai nilai-nilai yang baik, namun lebih dari itu menjangkau pada bagaimana menjadikan nilai-nilai tersebut tertanam dan menyatu dalam totalitas pikiran-tindakan. Lihat Creasy, “What is Character”, dalam Educational Policy,  2008, Volume 3, Nomor 12, 6.
[2] Pedagogik Freire dikenal sebagai pedagogik pembebasan  yaitu belajar menghayati kontradiksi sosial, politik dan ekonomi dan mengambil langkah-langkah mengatasi elemen-elemen penindas. Dalam pemikiran serta usaha memperjuangkan perwujudan konsepnya tentang pedagogik pembebasan, Freire mengajukan kebulatan tekad berupa harapan (“hope”) akan keberhasilan. Lihat Paulo Freire, Pedagogy of Hope (1998) serta bukunya yang terakhir, Pedagogy of Freedom (1998). Paulo Freire wafat 1997.

Share this post :

Posting Komentar

Sambutan Rektor

Assalamu‘alaikum Wr. Wb.

Wahai anak-anak bangsa, selamat datang di kampus peradaban, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Sayaga Saniskara Nusantara disingkat menjadi STIES GASANTARA SUKABUMI berkedudukan di Sukabumi Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kampus ini hadir pada awal abad 21, saat di mana sedang terjadi berbagai krisis kemanusiaan, mulai dari level global sampai ke level personal-individual. Pada level global, antara lain masih terjadi ketegangan, bahkan peperangan antar bangsa dan negara. ....Selanjutnya

Paling Sering di Baca

 
Support : Dadan | mudah | Youtube
Copyright © 2015. WEBSITE RESMI STIES GASANTARA - All Rights Reserved
Admin by mudah.web.id
Proudly powered by Dadan