Selamat Datang!

SAMBUTAN KETUA STIES GASANTARA SUKABUMI

Assalamu‘alaikum Wr. Wb.

Wahai anak-anak bangsa, selamat datang di kampus peradaban, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Sayaga Saniskara Nusantara disingkat menjadi STIES GASANTARA SUKABUMI berkedudukan di Sukabumi Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kampus ini hadir pada awal abad 21, saat di mana sedang terjadi berbagai krisis kemanusiaan, mulai dari level global sampai ke level personal-individual. Pada level global, antara lain masih terjadi ketegangan, bahkan peperangan antar bangsa dan negara. Sedangkan pada level personal-individual, antara lain terjadi krisis mentalitas dan moralitas; kemiskinan dan pengangguran; atau dengan kata lain, krisis tersebut terjadi dalam berbagai aspek kehidupan, krisis di bidang ekonomi, politik, hukum, keamanan, pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan, yang berakumulasi menjadi krisis peradaban.
Terhadap kondisi krisis multidimensi sebagaimana digambarkan di atas, Azyumardi Azra guru besar Sejarah Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengemukakan bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir ini berkembang pandangan bahwa kegagalan modernisme Barat dalam memenuhi “janji-janjinya untuk mensejahterakan kehidupan manusia melalui kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi”, di kalangan para pengkaji peradaban Islam sering dikaitkan orang dengan kekeliruan epistemologi ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pasca Aufklarung dan Revolusi Industri di Eropa. Berbeda dengan epistemologi ilmu pada abad pertengahan yang bersifat “teosentris”, sebaliknya epistemologi ilmu modern dan kontemporer lebih bersifat “antroposentris”. Epistemologi yang bercorak terakhir ini di kalangan pemikir Barat hampir sepenuhnya telah menggusur paradigma “teosentris”. 
Para pengkaji peradaban mengakui bahwa sains yang dihasilkan epistemologi bercorak antroposentris (secular) tidak hanya telah mendatangkan kemajuan material yang pantastik, namun juga telah mendatangkan kemajuan kebudayaan  dan peradaban yang bersifat eksploitatif dan sikap hidup hedonistik. Kaitan dengan hal ini, Azyumardi Azra mengemukakan bahwa IPTEK yang dikonstruksi berdasarkan pada epistemologi Barat tidak hanya mendatangkan kemajuan dan kenyamanan, tetapi juga berbagai problema kemanusiaan dan demoralisasi kultural dan spiritual cukup parah yang tidak mudah bisa diatasi.
Secara umum, perguruan tinggi di Indonesia, baik Perguruan Tinggi Umum (PTU), maupun PerguruanTinggi Kegamaan Islam (PTKIS) dalam penyelenggaraan pendidikannya masih kental dengan suasana dikotomis antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum; dalam mengkonstruksi keilmuan dan proses trnsfer of knodwlege-nya terhadap peserta didik, tampaknya belum melakukan perubahan-perubahan mendasar yang melibatkan wacana epistemologis. Di satu sisi, Perguruan Tinggi Umum di Indonesia, masih tetap konsisten menjadi pendukung dan mendewa-dewakan sains barat sekuler sebagai satu-satunya cara pandang yang universal, tanpa menyadari adanya problem fundamental di wilayah epistemologi. 
Di sisi yang lain, menurut Azyumardi Azra bahwa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam di Indonesia dalam melakukan modernisasi sistem dan kelembagaan pendidikan Islam berlangsung secara adhoc (sementara) dan parsial; cenderung mengadopsi dan mengimplementasikan begitu saja, tanpa melibatkan wacana epistemologis juga. Oleh sebab itulah, modernisasi yang dilakukan cenderung bersifat involutif, yakni sekedar perubahan-perubahan yang hanya memunculkan kerumitan-kerumitan baru daripada terobosan-terobosan baru yang betul-betul dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi konsep maupun viabilitas, kelestarian dan kontinuitasnya. 
Berkenaan dengan masalah epistemologi ilmu, Mulyadhi Kartanegara, lulusan doktor filsafat  University of Chicago, sekarang sebagai guru besar Filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Universitas Brunei Darussalam,  menyatakan bahwa memang ada perbedaan fundamental antara teori ilmu pengetahuan modern dan teori ilmu Islam, khususnya dari sudut lingkup dan metodologi. Mulyadhi Kartanegara mengharapkan agar kaum cendekiawan Muslim modern mulai menyadari bahwa cara pandang ilmu modern bukan satu-satunya cara pandang yang universal, tetapi ada juga cara pandang keilmuan lain yang telah dikembangkan para cendekiawan Muslim klasik yang mungkin dapat dijadikan pandangan keilmuan alternatif yang lebih cocok dengan atmosfir budaya bangsa kita yang religius. Dengan adanya perbedaan fundamental antara kedua sistem ilmu ini, diharapkan pembicaraan tentang islamisasi ataupun “naturalisasi” ilmu akan lebih feasible (mungkin) dan bermakna. Penjajakan kemungkinan bagi Islamisasi ilmu ini diharapkan dapat menjadi fondasi bagi pembicaraan selanjutnya berkenaan dengan naturalisasi ilmu ini. Perbedaan pandangan atau perspektif keilmuan seseorang bisa membawa implikasi yang jauh dalam sebuah teori ilmiah. Pembatasan bidang ilmu kepada objek-objek indrawi dan metodenya hanya pada observasi oleh ilmuwan Barat, terbukti telah menimbulkan berbagai masalah teologis yang serius, yang berakhir dengan penolakan beberapa ilmuwan modern terhadap eksistensi Tuhan dan wahyu ilahi. Dengan demikian, bahwa islamisasi ilmu memang diperlukan agar dampak negatif dari ilmu tersebut bisa dikendalikan dan dihindarkan.
Albert Einstein, ketika sampai pada puncak pemikiran dan penelitiannya terhadap alam semesta, berkesimpulan bahwa keutuhan ilmu merupakan integrasi rasionalisme, empirisme dan mistis intuitif. Dengan demikian, keutuhan ilmu ialah ilmu dengan pendekatan rasional analitis yang mengaitkan ilmu, moral dan seni, melalui pengkajian falsafi, dengan tiga landasan dasarnya, yaitu ontologi, epsitemologi dan aksiologi sebagai aspek-aspek bahasannya. Ilmuwan harus melakukan pembaharuan pola berpikir yang ditopang oleh kegiatan berfilsafat, agar peradaban manusia berkembang pesat. Disarankan, filsafat ilmu hendaknya diberikan kepada semua tingkat pendidikan, sebagai pendidikan moral keilmuan yang seiring dengan kemampuan penalaran ilmiah, sehingga ilmu dapat memperkaya khazanah kebahagiaan manusia. Einstein berkata: “Ilmu tanpa agama adalah buta, sedangkan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”.  
Menurut Herman Soewardi guru besar Sosiologi dan Filsafat Ilmu UNPAD Bandung, bahwa abad ini adalah momentum menuju lahirnya sains tauhidullah atau sains Islami. Sains tauhidullah tiada lain adalah alternatif terhadap Sains Barat Sekuler (SBS) yang kini sudah hampir kandas. Islamisasi sains bukanlah mengislamkan sains, akan tetapi mencari kelanjutan SBS yang pada penghujung abad ke-20 sampai pada 3 R (resah, renggut dan rusak). Karakteristik utama sains tauhidullah adalah naqliyah memandu aqliyah atau wahyu yang memandu akal manusia. Kecenderungan akan lahir dan berkembangnya sains tauhidullah tersebut, tentunya harus berimplikasi pada proses transfer of  knowledge  semua disiplin ilmu yang menjadi muatan kurikulum pada satuan pendidikan, terlebih bagi madrasah dan PTKIS yang menjadikan agama Islam sebagai identitas kelembagaan. Dalam konteks pembelajaran ekonomi yang diintegrasikan dengan nilai-nilai ketauhidanlah yang akan menjadi solusi atas terjadinya krisis global akibat perkembangan sains barat sekuler yang sudah melahirkan resah, renggut dan rusak.  
Paradigma epistemologi keilmuan bercorak teosentris ini telah dikembangkan oleh para ilmuwan besar muslim terdahulu yang otoritas keilmuawannya mempengaruhi dunia, seperti Al-Kindi (w. 866 M), Al-Farabi (w. 950 m), Ibn Hazm (w. 1064 M), Ibn Sina (980 -1037 M), Ibn Rusyd (w. 1198 M), Suhrawardi (w. 1191 M), Nashir al-Din Thusi (1201 – 1272 M), al-Ghazali (1055-1111 M), Ibn Taimiyah (1263 -1328 M), Ibn Khaldun (1332 -1406 M), dan masih banyak yang lainnya. Hasil karya mereka telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan peradaban dunia yang agung dan bermartabat. Kontribusi mereka telah tercatat tinta emas dalam sejarah peradaban umat manusia.
Paradigma epistemologi keilmuan ini juga didukung oleh para ilmuwan besar dunia di Barat,  seperti Albert Einstein seorang ilmuwan raksasa yang mendalam segi spiritual dan kepribadiannya; Fritjof Capra ilmuwan dari Amerika Serikat. Ilmuwan muslim kontemporer juga mengembangkan paradigma epistemologi keilmuan ini, Sayyed Hossein Nasr pemikir Islam terkemuka yang menetap di Amerika Serikat, Ismail al-Faruqi ilmuwan muslim yang menetap di Amerika Serikat; Murtadha Muthahhari dan Ali Syariati dari Iran; S.M. Naquib Al-Attas seorang ahli sejarah dan peradaban Islam dari Malaysia dan salah seorang pendiri Institut for Islamic Thought and Civilization (ISTAC) dan M. Kamal Hassan dari UKM Malaysia. Di Indonesia kita mengenal pendukung paradigma epistemologi keilmuan ini seperti Azyumardi Azra, Mulyadhi Kartanegara, Sukron Kamil, dan lain-lain dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Ahmad Tafsir, Juhaya S. Pradja, Afif Muhammad dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Jujun Suriasumantri dan AM. Saefuddin dari IPB;  Herman Soewardi guru besar Filsafat Ilmu dari UNPAD Bandung, Armahedi Mahzar dan Ahmad Sadali dari ITB, mereka mencoba meletakan dasar bagi filsafat Islami tentang ilmu-ilmu kealaman, ilmu-ilmu sosial, dan ilmu-ilmu humaniora. 
Kondisi krisis multidimensi sebagaimana digambarkan di atas, tesis yang dikemukakan oleh Samuel Huntington, seorang guru besar Ilmu Politik dari Harvard University Amerika Serikat sebagai akibat dari benturan peradaban (The Clash of Civilization). Hal ini menunjukkan bahwa hakikat tujuan pendidikan di muka bumi ini belum tercapai, karena hakikat tujuan pendidikan adalah terbentuknya sumber daya manusia yang memilki kepribadian harmonis, baik dengan dirinya sendiri, sesama manusia, maupun dengan lingkungannya, bahkan harmonis dengan Tuhannya. Oleh sebab itu, paradigma pendidikan pada abad posmodern ini perlu diorientasikan pada “harmonisasi peradaban” (Harmonizing Civilization), bukan sebaliknya “benturan peradaban” (The Clash of Civilization) sebagai diungkapkan Samuel Huntington. 
Kami civitas akademika STIES GASANTARA SUKABUMI bermaksud mengembangkan konsep keilmuan berbasis epistemologi ilmu yang bersifat “teo-sentris” yaitu paradigma keilmuan yang mampu melihat alam semesta secara utuh dan meyeluruh, baik alam fisik maupun alam metafisik, sehingga paradigma ini akan melahirkan sebuah sistem keilmuan yang integratif dan holistik, khususnya dalam ilmu ekonomi Islam. 
Gagasan tersebutlah yang melandasi visi dan misi makro STIES GASANTARA Sukabumi, dalam rangka melakukan gerakan reharmonisasi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum  dengan perubahan besar dan mendasar pada wilayah epistemologi, yaitu perubahan paradigma keilmuan melalui konsep integrasi keilmuan secara integratif dan holistik, khususnya dalam pengembangan ilmu ekonomi Islam, sebagai bentuk tanggungjawab sosial akademisi dalam ikhtiar mencari solusi atas terjadinya krisis peradaban yang dialami umat manusia dewasa ini. Selain itu, sebagai bentuk partisipasi aktif para akademisi dalam penyelenggaraan pedidikan dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan. Dalam hal ini, Perguruan Tinggi dapat berkontribusi secara nyata menjadi basis dalam proses pembudayaan nilai-nilai keagamaan dan kebudayaan dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa menuju kemajuan peradaban dan mempercepat terbentuknya masyarakat madani Indonesia dalam lingkungan masyarakat madani global yang harmoni atau dalam al-Qur’an disebut sebagai Rahmatan lȋ al- ‘Âlamȋn.

Share this post :

Posting Komentar

Sambutan Rektor

Assalamu‘alaikum Wr. Wb.

Wahai anak-anak bangsa, selamat datang di kampus peradaban, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syariah Sayaga Saniskara Nusantara disingkat menjadi STIES GASANTARA SUKABUMI berkedudukan di Sukabumi Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kampus ini hadir pada awal abad 21, saat di mana sedang terjadi berbagai krisis kemanusiaan, mulai dari level global sampai ke level personal-individual. Pada level global, antara lain masih terjadi ketegangan, bahkan peperangan antar bangsa dan negara. ....Selanjutnya

Paling Sering di Baca

 
Support : Dadan | mudah | Youtube
Copyright © 2015. WEBSITE RESMI STIES GASANTARA - All Rights Reserved
Admin by mudah.web.id
Proudly powered by Dadan